Minggu, 09 September 2012

Cerpen 3


Senja Menyurai

Perintah magister untuk menyerahkan fotokopi ijasah dan KTP membuat aku harus membongkar kembali semua bekas yang sudah kususun rapi di koperku. Tiga bulan semenjak diterimanya aku di institusi ini, nyaris tak sekalipun kusentuh koper tua pemberian ayahku itu. Koper hitam yang dulu selalu menemani ayahku hilir-mudik, keluar-masuk hutan dan lumpur di pedalaman Kalimantan Barat, hanya untuk murid-muridnya dan aku, anaknya yang sedang menempuh sebuah “jalan gila”.
Koper yang kusembunyikan di bawah tempat tidurku itu ternyata sudah mulai tertutup debu. Kukibaskan tanganku diatasnya untuk memnyingkirkan debu-debu itu. Kubuka dan segera kubongkar semua berkas yang ada didalamnya. Dimana? Tanyaku dalam hati. Oh, ternyata terletak di bawah lembaran konsep pidato Bahasa Inggris, pidato yang membawa aku menjadi juara II lomba pidato se-kabupaten saat SMA dulu. Segera kupisahkan 10 lembar kertas fotocopy tersebut. Ketika aku ingin menutup koper itu kembali, mataku tertarik pada sebuah diary yang kutulis tiga tahun yang lalu. Kuambil, kubuka secara acak, dan kubaca isinya……
Senin, 11 mei 2009
(pukul 11.47 wib)
Hm….
Sebuah kata lelah takan menggantikan hari-hari yang telah kulalui bersamamu. Memang aku sadari, jika apa yang kita lakukan ini berawal dari sebuah kebohongan, tentu saja kebohonganlah yang akan menjerat langkah kita nantinya. Aku sadari hal ini. Semua terlalu berat ketika aku harus  melangkah mendayu melewati riam-riam ini. Aku tak tahu, apa kau merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan. Semoga saja, setiap rintik hujan bisa mengingat apa yang pernah kita lalui bersama. Ketika switter putihku memayungi wajahmu. Atau ketika aku tersandung pada batu di pinggri jalan itu.
Selasa, 12 mei 2009
(Pukul 17.39)
Sore ini, aku duduk di Gua Maria Puteri Kapuas. Senja Menyurai masih sama seperti hari kemarin. Aku juga masih sama seperti hari yang lalu. Masih sama dengan setiap inci kedekilanku. Aku rasa, keresahan ini tak akan hilang termakan usia. Duduk ditempat ini membuatku terus berpikir, berpikir, dan berpikir. Berpikir tentang betapa beratnya mengarungi waktu tanpa sebuah harapan. Aku terpaku memandangi patung Bunda Maria. Ia tersenyum menatapku seakan berkata,’’ Kau kuat anakku ! Ccobalah untuk lebih baik lagi.
Huh……
Bunda,  apa kau tahu betapa lelahnya aku…???? Apa kau tahu bahwa matahari disana sudah lelah menyinari bumi….???? Apa kau tahu setiap keresahanku..??? Apa kau tahu menjalani panggilan adalah rencana Dia bagiku..??? Oh Bunda… Andai kau bisa menjelas kan gelap yang hadir di benakku… Andai saja kau bisa menanyakan kepada Anakmu, apa rencana-Nya dengan memanggil aku…
Rabu, 13 Mei 2009
(Pukul 23.35 WIB)
Langit mendung malam ini. Entah ia ingin bercerita tentang apa. Aku masih duduk dan terdiam disini. Memang cukup berat bagi seorang lelaki yang harus menaruh mimpi pada genangan air. Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri, apa hari lalu adalah sebuah cerita yang kelam ? mala mini, aku hendak menulis sesuatu tentang cinta. Cinta adalah sebuah ekspresi emosi. Jadi, orang-orang tak akan bisa menulis tentang cinta tanpa ia sendiri pernah mengalaminya. Cinta itu sudah hadir sejak manusia pertama kali diciptakan, karena Allah adalah cinta. Aku dan dia, kamu semua, ada karena cinta. Sebenarnya, banyak hal yang ingin kutulis tentang cinta…
(Akhirnya… aku benar-benar lelah untuk terus mengukir waktu. Andaipun segala sesuatu telah berubah, aku tak akan pernah berubah. Segala hal yang aku pikirkan, aku rasakan, dan aku lakukan akan tetap sama, seperti dahulu. Seperti banyak hal yang pernah kita lalui bersama.)
.  .  .
Kututup diariku. Kupejamkan mata. Oh Tuhan, betapa banyak keresahan dan kecemasan yang telah kulewati dalam panggilan ini. Ternyata, aku kuat bila bersama-Mu. Cinta dan panggilan, dua hal yang akan terus kugeluti selanjutnya.
Tak selamanya masa lalu menghadirkan kegelapan. Aku melihat terang di sana. Senja Menyurai akan mengingatkan aku tentang hal itu. Senja yang romantis dengan ribuan siluetnya yang indah. Mahakarya Tuhan !
Di tengah segala macam pergulatanku saat ini, aku tersadar. Tuhan tak pernah mengecewakanku. Tuhan mencintai aku, Ia mengangkat aku dan menjadikan aku sebagai hamba-Nya. Seandainya Ia melepaskan tanganku, Ia tetap mengikat kakiku dengan cinta-Nya. Aku menemukan hidupku disini. Aku menemukan kebersamaanku dengan Dia yang memanggil aku. Oh my God ! I’m Crazzy for You. Biarlah semua kenangan lalu itu. Semua akan ikut terbenam bersama senja Menyurai. Masih ada hari esok yang akan kutempuh dalam panggilanku. Tak ada gunanya aku terkurung dalam masa lalu.
Kukemas kembali semua berkas kedalam koperku. Kucium diariku. Kukembalikan. Kututup dan kukunci koper hitam itu lagi. Aku keluar dan berlari. Terima kasih Tuhan untuk pengalaman hari ini. Ya Tuhan, aku mencintai-Mu.
Ya Tuhan, aku datang untuk melakukan kehendak-Mu !

.  .  .

Malang, akhir September 2010

Sabtu, 08 September 2012

feeling...


Kecantikanmu

Bagiku,
Kecantikanmu mengalahkan sejuk tiupan angin di tengah padang ilalang
Dirimu adalah keindahan sempurna lembayung senja

Matamu memancarkan sinar-sinar emas matahari pagi
Awan-awan gelap tak akan mampu menghalanginya, karena, mata itu memancarkan kedamaian
Terangnya memancarkan kejujuran
Hangatnya menandakan ketajaman dan ketegasan

Kecantikan tubuhmu adalah mikrokosmos alam semesta
Setiap lekuk tubuhmu adalah kesempurnaan ciptaan
Disanalah margasatwa dunia bernaung
Kupu-kupu, Merak, Cendrawasih, Merpati, Enggang, dan 1001 lainnya mengisyaratkan keanggunanmu

Rambutmu adalah lekuk-lekuk aliran sungai
Hitamnya adalah hitam tanah; lambang kesuburan
Wanginya adalah semerbak harum padang bunga mawar

Kakimu adalah hamparan kayu besi hutan Kalimantan, kokoh kuat dan tinggi semampai; enak dipandang

Warna kulitmu menggambarkan ketulusan jiwa… Putihnya hati… Beningnya kata…

Argh…
Hatimu adalah Oase kehidupan
Mata air kasihmu tak akan pernah kering terhisap zaman

Akhirnya,
Kecantikanmu adalah sebuah tarian indah bagi segenap mata lelaki
Kecantikanmu adalah tanda keagungan tangan Tuhan
Dan…
Kamu cantik…


Penghujung November 2010

sharing


Sedikit Menyelam ke Dasar Cinta diantara Kita…

Semenjak cinta dihadirkan Tuhan ke dunia, jutaan penyair, pujangga, pelukis, dan seniman-seniman lainnya mencoba untuk mendefinisikan/mengekspresikan cinta.
Di sudut ini, aku pun mencoba untuk menceritakan cinta kepadamu secara sederhana, dengan segala macam kata yang mungkin tak terucapkan.
Dari segala macam pengalaman yang terjadi di antara kita selama ini, aku telah memberikan setangkai mawar hidupku kepadamu, dan kamu pun melakukan hal yang sama. Jangan kamu genggam bunga itu, dan aku pun tidak menggenggam bunga pemberianmu. Biarlah jemari kita menggenggam tangkainya saja. Biarkan bunga itu menunjukkan diri dengan segala macam keindahannya. Jangan kita tutupi karena ketika kita menggenggam bunga itu, ia akan rusak. Lepaskan ia untuk tumbuh dan menjadi indah dengan caranya, asal kita tetap menggenggam tangkainya.
Begitu juga dengan kita, biarkan cinta diantara kita tetap tumbuh menjadi indah. Jangan kita genggam hati kita karena hati itu akan menjadi rusak dan lusuh. Biarkan cinta itu tetap tumbuh dan berkembang dengan cara dan jalannya masing-masing. Karena, jika kita menggenggam hati kita, cinta itu akan menjadi begitu kerdil dan sempit. Cinta itu menjadi hanya sebatas “Aku memiliki kamu dan kamu memiliki aku”.
Cinta kita juga seumpama air jernih dan bersih yang ada didalam dua gelas bening. Ketika air itu disatukan, tidak akan ada lagi perbedaan antara airku dan airmu. Air itu telah menjadi satu. Air itu akan menjadi keruh hanya jika salah satu dari kita yang mengeruhkannya.  Di dalam air ini, aku tidak lagi memiliki kamu dan kamu pun tidak memiliki aku. Yang ada adalah sebuah kesatuan.
Maksudku di sini bukanlah tentang cinta yang mengikat sehingga kita tak bisa lagi untuk bergerak dan mengepakkan sayap. Cinta itu tidak memiliki dan mengikat! Cinta itu sendiri adalah tentang memberi dan hidup di dalamnya. Ketika kamu disakiti, aku pun akan sakit. Ketika mereka disakiti, kita pun akan merasa sakit. Ketika kita saling mencintai, mereka pun akan merasakan cinta.
Maka, hal lain yang ingin aku sampaikan adalah cinta yang mempersatukan. Kita akan bisa tumbuh bersama-sama secara sempurna, tanpa saling mengikat dan saling memiliki secara sempit. Kita adalah satu dalam cinta kasih itu sendiri. Akhirnya cinta adalah suatu hal yang kompleks dan integral. Nikmati hidup kita masing-masing dengan saling berbagi cinta! Tetap saling mendoakan!

Based on a sharing from one of my formator…

Selasa, 18 Oktober 2011

Analisis Aku dan Liyan

Pengantar
Hidup di zaman sekarang ini yang telah banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang menyajikan kemudahan-kemudahan bagi manusia, sesungguhnya telah turut ambil bagian dalam perkembangan interaksi manusia terhadap sesamannya. Kesadaran akan nilai-nilai kehidupan juga mendorong setiap orang untuk menjadi pribadi yang semakin baik dan berkembang. Setiap manusia senantiasa ingin terus menjadi yang terdepan dalam segala aspek kehidupan, menjadi pribadi-pribadi yang handal yang ingin dihargai, dipuji, di anggap ada dll. Oleh karena itu setiap pribadi akan selalu dihadapkan dengan realita yaitu kehidupan bermasyarakat. Hidup bersama dengan orang lain.    
Keberadaan Aku
Berawal dari kesadaran “Aku” adalah kesadaran tentang keseluruhan eksistensi dan keberadaanku. hidupku itulah “Aku”. Perbuatanku itulah “Aku”. Relasi-relasiku itulah “Aku”. Cinta-ku dan segala konsekuensi pengorbanan yang menyertainya. itulah “Aku”. Cita-cita, pengaharapan dan kecemasanku itulah . Pengalaman keseharian-ku itulah “Aku”. Jatuh-bangun perjuangan-ku  itulah “Aku”. Dalam kehidupan kita banyak peristiwa yang telah terjadi yang menampilkan kepada kita tentang “Aku”. Manusia itu satu, utuh, karena “Aku-nya satu dan utuh. jika ada orang yang meyakini bisa membagi dan memisah-misahkan elemen manusia, itu pasti bukan “Aku-nya. ”Aku” manusia tidak mungkin dan tidak bisa dipisah-pisahkan dalam cara apa pun. Dengan demikian ingin menunjukan kepada kita bahwa betapa mulianya, berhargannya, betapa agungnya keberadaan martabat dan harkat yang dimiliki oleh setiap manusia yang sangat perlu untuk diperjuangkan.     
Sesamaku bukan Liyan
“Aku” memiliki karakter subjektif, tidak pernah objektif. sebab “Aku” adalah subjek kehadiran manusia. “ Aku” adalah tuan sekaligus memilik keseluruhan aktifitas manusia. Kehadiran diri manusia dalam kehidupan bersama memberi banyak nuansa yang berbeda yang senantiasa menunjukan diri mereka sebagai sebjektif. Menyadari akan keseluruhan eksistensi dan keberadaan manusia yang memiliki “Aku” yang berbeda dari setiap manusia yang lainnya. Maka sikap untuk saling menghargai satu dengan yang lainnya menjadi keharusan bagi setiap pribadi. Maka tepatlah apa yang dikatakan oleh Martin Buber yang memberikan kepada kita pengertian akan Aku dalam “I dan Thou”. Manusia adalah yang memandang rekan bicara tidak hanya sebagai “engkau” melainkan meneguhkan kesadaran “Aku”. Inilah inti sari dari sebuah persahabatan. Persahabatan yang sejati yang memandang orang lain sebagai bagian dari “Aku”nya sendiri. Karena tanpa keberadaan orang lain manusia tidak dapat menunjukan eksistensinya sebagai manusia.
Manusia yang memandang sesamanya sebagai sehabat bukan sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Sebuah relasi yang mendalam, tidak terpisahkan, saling mengubah dan bergantung satu dengan yang lainnya yang kemudian membentuk suatu komunitas. “I” yang senantiasa membutuhkan kehadiran “Thou” membutuhkan kehadiran eksistensi yang lain untuk mengenal eksistensi “Aku”. Aku hanya dapat berkembang, berelasi, mencintai, bereksistensi dan mengenal diri sendiri hanya karena “Aku” bersama dengan orang lain. Dengan demikian ”Aku” hanya dapat menunjukan Eksistensinya hanya dengan menyadari akan keberadaan orang lain, bukan sebagai Liyan yang terpinggirkan, terpisahkan dari “Aku”. Maka dengan demikian jika Liyan adalah kesadaranku, Seandainya tidak ada orang lain aku tidak mungkin memiliki sebuah kesadaran eksistensial. Sebab, eksistesiku hanya menjadi mungkin dalam pergaulan bersama orang lain.
Manusia sebagaimana yang dikatakan dalam Kitab Suci adalah ciptaan Allah yang paling sempurna dan Allah melihat baik ciptaannya itu (Kejadian 1: 26). Namun tidak selalu demikian yang terjadi pada saat ini. Tidak jarang manusia direduksi kepada ras, suku, agama, tingkat pendidikan, jenis kelamin, kelompok mayoritas minoritas, atau bahkan pada perkara kelengkapan tubuh (misalnya yang cacat dianggap kurang mampu dan layak dikasihani dan sebaliknya yang lengkap indranya dianggap sebagai orang yang mampu dan memiliki martabat). Bukankah jika  demikian martabat manusia hanya dipandang dari apa yang dapat dilihat dan dirasakan oleh indera saja?. Dalam konstelasi filsafat Aristotelian, Liyan menemukan kejelasannya karena menjadi sosok yang tidak terhitungkan dalam tata kelola hidup bersama, Liyan dalam kondisi ini menjadi yang terpinggirkan. Liyan juga kurang dianggap keberadaannya, kurang dihargai martabatnya, seakan-akan hanya sebagai objek yang lebih rendah. Liyan juga dikategorikan sebagai mereka yang hidupnya pun bukan berada dalam kekuasaannya.
Orang kecil sebagai Liyan
Beberapa hari yang lalu tepatnya pada tanggal 10 Oktober 2011. Diberitakan ada 345 orang TKI terancam pidana hukuman mati diberbagai Negara. Salah satunya adalah Tuti Tursilawati berasal dari Jawa Barat yang diduga telah membunuh majikannya sendiri. Pembunuhan itu terjadi lantaran ia ingin membela diri saat mengalami pencobaan pelecehan seksual. Kondisi seperti ini bukanlah hal baru yang menjadi topik pembicaraan di berbagai kalangan masyarakat. Seolah-olah peristiwa  seperti ini menjadi sesuatu yang sudah lazim bagi kita. Namun lebih dari itu saya melihat bahwa berita seperti ini seharusnya menjadi keprihatinan kita semua sebagai manusia. Dalam konteks ini liyan diartikan sebagai orang-orang yang mengalami ketidakadilan dan penindasan secara biologis, budaya, agama, dan lain-lain. liyan juga dipandang sebagai mereka yang diasingkan dan dipandang sebagai objek. Mengapa tidak? Para TKI yang juga merupakan sumber pemasukan bagi Bangsa ini malah menjadi Liyan yang tidak dihiraukan dan diperhatikan, padahal mereka adalah pahlawan devisa bagi Indonesia. Kenyataannya mereka seolah-olah tidak ada, tidak diperhitungkan sehingga tidak perlu dibela hak, martabat dan kehidupannya. Karena mereka tidak diperlakukan dengan adil padahal mereka juga merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Kita ketahui bahwa kebanyakan dari mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan sebagai buruh yang sering dipandang rendah oleh kebanyakan orang karena pekerjaan mereka. Dengan kata lain TKI telah dijadikan sebagai Liyan, dalam hal ini adalah oleh pemerintah sendiri.
            Dengan demikian “Aku” dan “Liyan” mempunyai relasi yang cukup erat yang saling bergantungan, saling melengkapi, saling mengisi. Sehingga setiap manusia dapat menunjukan eksistensinya jika ia berada diantara sesamanya. Dengan demikian kebaradaan orang lain sangatlah penting untuk dihargai dan dihormati. Kesadaran akan betapa tingginya nilai manusia baik harkat, martabat, dan hakikatnya sebagai ciptaan yang paling sempurna.

The Way


The Way
In a lonely field I walked one morning in the rising sun
Everything was still and silent; a prayer was in my heart. I wondered
“In other lands beyond these hills, beyond my little world
How can I bring your message, and bear your light?”
Then the winds came, and the pouring rain, and I was swept away,
And your quiet voice spoke in my heart, “Just follow… I’ll show you the way.”

A path now lay before my feet and stretched beyond my sight,
And I didn’t know the days, the years, or what would lie ahead.
A running stream beneath a towering mountain, flowers, thorns, an endless journey.

Every step I took I had you there at my side.
Then the day came, when he called your name, and led you to his side
And I heard a voice speak in my heart.

Don’t stand there looking at the sky, don’t let these moments pass you by,
A tired hungry world is waiting for you.
The path is long but have no fear, rise up stand tall and dry your tears,
I’ll be right here at your side. Always.

Though the road was long we journeyed on, we followed in your footsteps,
You taught us how to find our way, and how to hear your voice.

But the day was growing older and the Sun began to hide,
And we were tired and we feared the coming night…
Then the storm came, we were all alone. You seemed so far away,
And we didn’t know where to turn…

And Thomas said, “How can we know the way?”
We don’t know where you’re going. Won’t you stay?
Can’t you see? It’s too much for me…
 “Don’t be afraid. You already know the way.”

Don’t stand there looking at the sky, don’t let these moments pass you by,
A tired hungry world is waiting for you.
The path is long but have no fear, rise up stand tall and dry your tears,
I’ll be right here at your side.

I’ll be right here at your side. You know the way.