Selasa, 18 Oktober 2011

Analisis Aku dan Liyan

Pengantar
Hidup di zaman sekarang ini yang telah banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang menyajikan kemudahan-kemudahan bagi manusia, sesungguhnya telah turut ambil bagian dalam perkembangan interaksi manusia terhadap sesamannya. Kesadaran akan nilai-nilai kehidupan juga mendorong setiap orang untuk menjadi pribadi yang semakin baik dan berkembang. Setiap manusia senantiasa ingin terus menjadi yang terdepan dalam segala aspek kehidupan, menjadi pribadi-pribadi yang handal yang ingin dihargai, dipuji, di anggap ada dll. Oleh karena itu setiap pribadi akan selalu dihadapkan dengan realita yaitu kehidupan bermasyarakat. Hidup bersama dengan orang lain.    
Keberadaan Aku
Berawal dari kesadaran “Aku” adalah kesadaran tentang keseluruhan eksistensi dan keberadaanku. hidupku itulah “Aku”. Perbuatanku itulah “Aku”. Relasi-relasiku itulah “Aku”. Cinta-ku dan segala konsekuensi pengorbanan yang menyertainya. itulah “Aku”. Cita-cita, pengaharapan dan kecemasanku itulah . Pengalaman keseharian-ku itulah “Aku”. Jatuh-bangun perjuangan-ku  itulah “Aku”. Dalam kehidupan kita banyak peristiwa yang telah terjadi yang menampilkan kepada kita tentang “Aku”. Manusia itu satu, utuh, karena “Aku-nya satu dan utuh. jika ada orang yang meyakini bisa membagi dan memisah-misahkan elemen manusia, itu pasti bukan “Aku-nya. ”Aku” manusia tidak mungkin dan tidak bisa dipisah-pisahkan dalam cara apa pun. Dengan demikian ingin menunjukan kepada kita bahwa betapa mulianya, berhargannya, betapa agungnya keberadaan martabat dan harkat yang dimiliki oleh setiap manusia yang sangat perlu untuk diperjuangkan.     
Sesamaku bukan Liyan
“Aku” memiliki karakter subjektif, tidak pernah objektif. sebab “Aku” adalah subjek kehadiran manusia. “ Aku” adalah tuan sekaligus memilik keseluruhan aktifitas manusia. Kehadiran diri manusia dalam kehidupan bersama memberi banyak nuansa yang berbeda yang senantiasa menunjukan diri mereka sebagai sebjektif. Menyadari akan keseluruhan eksistensi dan keberadaan manusia yang memiliki “Aku” yang berbeda dari setiap manusia yang lainnya. Maka sikap untuk saling menghargai satu dengan yang lainnya menjadi keharusan bagi setiap pribadi. Maka tepatlah apa yang dikatakan oleh Martin Buber yang memberikan kepada kita pengertian akan Aku dalam “I dan Thou”. Manusia adalah yang memandang rekan bicara tidak hanya sebagai “engkau” melainkan meneguhkan kesadaran “Aku”. Inilah inti sari dari sebuah persahabatan. Persahabatan yang sejati yang memandang orang lain sebagai bagian dari “Aku”nya sendiri. Karena tanpa keberadaan orang lain manusia tidak dapat menunjukan eksistensinya sebagai manusia.
Manusia yang memandang sesamanya sebagai sehabat bukan sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Sebuah relasi yang mendalam, tidak terpisahkan, saling mengubah dan bergantung satu dengan yang lainnya yang kemudian membentuk suatu komunitas. “I” yang senantiasa membutuhkan kehadiran “Thou” membutuhkan kehadiran eksistensi yang lain untuk mengenal eksistensi “Aku”. Aku hanya dapat berkembang, berelasi, mencintai, bereksistensi dan mengenal diri sendiri hanya karena “Aku” bersama dengan orang lain. Dengan demikian ”Aku” hanya dapat menunjukan Eksistensinya hanya dengan menyadari akan keberadaan orang lain, bukan sebagai Liyan yang terpinggirkan, terpisahkan dari “Aku”. Maka dengan demikian jika Liyan adalah kesadaranku, Seandainya tidak ada orang lain aku tidak mungkin memiliki sebuah kesadaran eksistensial. Sebab, eksistesiku hanya menjadi mungkin dalam pergaulan bersama orang lain.
Manusia sebagaimana yang dikatakan dalam Kitab Suci adalah ciptaan Allah yang paling sempurna dan Allah melihat baik ciptaannya itu (Kejadian 1: 26). Namun tidak selalu demikian yang terjadi pada saat ini. Tidak jarang manusia direduksi kepada ras, suku, agama, tingkat pendidikan, jenis kelamin, kelompok mayoritas minoritas, atau bahkan pada perkara kelengkapan tubuh (misalnya yang cacat dianggap kurang mampu dan layak dikasihani dan sebaliknya yang lengkap indranya dianggap sebagai orang yang mampu dan memiliki martabat). Bukankah jika  demikian martabat manusia hanya dipandang dari apa yang dapat dilihat dan dirasakan oleh indera saja?. Dalam konstelasi filsafat Aristotelian, Liyan menemukan kejelasannya karena menjadi sosok yang tidak terhitungkan dalam tata kelola hidup bersama, Liyan dalam kondisi ini menjadi yang terpinggirkan. Liyan juga kurang dianggap keberadaannya, kurang dihargai martabatnya, seakan-akan hanya sebagai objek yang lebih rendah. Liyan juga dikategorikan sebagai mereka yang hidupnya pun bukan berada dalam kekuasaannya.
Orang kecil sebagai Liyan
Beberapa hari yang lalu tepatnya pada tanggal 10 Oktober 2011. Diberitakan ada 345 orang TKI terancam pidana hukuman mati diberbagai Negara. Salah satunya adalah Tuti Tursilawati berasal dari Jawa Barat yang diduga telah membunuh majikannya sendiri. Pembunuhan itu terjadi lantaran ia ingin membela diri saat mengalami pencobaan pelecehan seksual. Kondisi seperti ini bukanlah hal baru yang menjadi topik pembicaraan di berbagai kalangan masyarakat. Seolah-olah peristiwa  seperti ini menjadi sesuatu yang sudah lazim bagi kita. Namun lebih dari itu saya melihat bahwa berita seperti ini seharusnya menjadi keprihatinan kita semua sebagai manusia. Dalam konteks ini liyan diartikan sebagai orang-orang yang mengalami ketidakadilan dan penindasan secara biologis, budaya, agama, dan lain-lain. liyan juga dipandang sebagai mereka yang diasingkan dan dipandang sebagai objek. Mengapa tidak? Para TKI yang juga merupakan sumber pemasukan bagi Bangsa ini malah menjadi Liyan yang tidak dihiraukan dan diperhatikan, padahal mereka adalah pahlawan devisa bagi Indonesia. Kenyataannya mereka seolah-olah tidak ada, tidak diperhitungkan sehingga tidak perlu dibela hak, martabat dan kehidupannya. Karena mereka tidak diperlakukan dengan adil padahal mereka juga merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Kita ketahui bahwa kebanyakan dari mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan sebagai buruh yang sering dipandang rendah oleh kebanyakan orang karena pekerjaan mereka. Dengan kata lain TKI telah dijadikan sebagai Liyan, dalam hal ini adalah oleh pemerintah sendiri.
            Dengan demikian “Aku” dan “Liyan” mempunyai relasi yang cukup erat yang saling bergantungan, saling melengkapi, saling mengisi. Sehingga setiap manusia dapat menunjukan eksistensinya jika ia berada diantara sesamanya. Dengan demikian kebaradaan orang lain sangatlah penting untuk dihargai dan dihormati. Kesadaran akan betapa tingginya nilai manusia baik harkat, martabat, dan hakikatnya sebagai ciptaan yang paling sempurna.

The Way


The Way
In a lonely field I walked one morning in the rising sun
Everything was still and silent; a prayer was in my heart. I wondered
“In other lands beyond these hills, beyond my little world
How can I bring your message, and bear your light?”
Then the winds came, and the pouring rain, and I was swept away,
And your quiet voice spoke in my heart, “Just follow… I’ll show you the way.”

A path now lay before my feet and stretched beyond my sight,
And I didn’t know the days, the years, or what would lie ahead.
A running stream beneath a towering mountain, flowers, thorns, an endless journey.

Every step I took I had you there at my side.
Then the day came, when he called your name, and led you to his side
And I heard a voice speak in my heart.

Don’t stand there looking at the sky, don’t let these moments pass you by,
A tired hungry world is waiting for you.
The path is long but have no fear, rise up stand tall and dry your tears,
I’ll be right here at your side. Always.

Though the road was long we journeyed on, we followed in your footsteps,
You taught us how to find our way, and how to hear your voice.

But the day was growing older and the Sun began to hide,
And we were tired and we feared the coming night…
Then the storm came, we were all alone. You seemed so far away,
And we didn’t know where to turn…

And Thomas said, “How can we know the way?”
We don’t know where you’re going. Won’t you stay?
Can’t you see? It’s too much for me…
 “Don’t be afraid. You already know the way.”

Don’t stand there looking at the sky, don’t let these moments pass you by,
A tired hungry world is waiting for you.
The path is long but have no fear, rise up stand tall and dry your tears,
I’ll be right here at your side.

I’ll be right here at your side. You know the way.

Sabtu, 14 Mei 2011

BIOGRAPHY


Name of Seminary                : Major Seminary of St. Vincent de Paul
Address                                  : Jl. Raya Langsep 45 Malang
Diocese                                   : Diocese of Malang, Indonesia
Academic year                       : It lasts from 2011 to 2012
Seminarist                              : Family Name : SANTO
                                                  First Name    : FLAVIANUS
Date of birth                          : February 22th  1990

Curriculum vitae
            -Elementary school     : SDN 27 Piantan Hilir, Pontianak in 1997-2003
            -Junior high school      : SMP Kharya Bhakti,Tontang 2003-2006
            -Senior high school     : SMA Panca Setya, Sintang in 2006-2009
            -Minor seminary          : John Mary Vianney, Sintang in 2006-2009
            -Postulate                    : Stella Maris, Malang in 2009-2010
            -Seminarium Internum of St Justin de Jakobis, Malang in 2010-2011
Family background
Parents’ name :            -Father                        : Lim Phut phin
                                    - Mother                      : Maria Lehun
Sisters’ name  :            - Youngest  sister       : Paula Santi
                                                           

            I was born in Pontianak, Wast Borneo. I am from small fanily. My mother and my sisiter still alive until now, but my father was died. They live in Jl. Olah- raga RT 02, RW 03, Desa Tontang, Kec. Nanga Serawai, Sintang, West Borneo. My mother is a common family wife. I just have one sister and she is studying in second graduate of senior high school et Pahuman, West Borneo.
            As I know, my family really support me in my way to join The Congregation of The Mission. They also hope and pray that I always keep my vocation. I am proud to them and I hope God always walk with me in keeping my vocation. May the Lord bless us all.

Year of admission in the Seminary              : 2010
Present year of theology                               : First
Probable pastoral year                                 : 2015-2016 and 2016-2017
Probable year of ordination to diaconate   : 2019
Probable year of priestly ordination           : 2019


Sabtu, 07 Mei 2011

Artikel Inggris

We are called to serve
By: Fr. Santo Andreas, CM
When I was studying in the junior high school, during the Easter holiday my friends and I joined the priest of my parish visiting a village. The village name is Riyoi and my priest of parish was Father Sabbas,CM. Oneday in the afternoon, we went to the village by a car. Two hours later we arrived at the other village and had to wait for the other car to bring us to the village. We waited for two hours but the car didn’t show up. Finally, Father Sabbas said to us: “I think let’s do the walking.” When we heard that, some of us didn’t agree, it was still far, and we had to walk for 15 Km. So, with reluctance we all agreed with Father Sabbas’s idea. We walked for 3 hours again and arrived at Riyoi at 20.00 pm. When we arrived there, some of villagers welcame us and brought us to their home. We took a bath and had dinner together and after that we all went to bed room and went to slept. But, before we slept I asked Father Sabbas some questions like these. Why did you want to walk this far away? Why did you not wait for tomorrow and rode a car, so that we didn’t feel tired. But he said to me: “Do you know that, I am a priest and it is my responsibility as a priest to visited and to strengthen them so that they can be loyal with their faith to Jesus Christ. It is just a little problem for me, becoming a priest is a choice, and that is my vocation to serve God by serving one another. We are called to serve, remember it!”
From that experience, I realized about the values of life. That is to serve with love. As Father Sabbas told to me, I think that is very true. When people have problems they feel they are powerless. Everyone has a responsibility in his/her life. Becoming a teacher, farmer, seller, laborer are all the same, it involves responsibility. The choice to become a priest is a choice to be a servant, the servant of God who serves others in love. Especially becoming a priest of the Congregation of the Mission, the purpose of the Congregation of the Mission is to follow Christ evangelizing the poor. The spirit of the Congregation of the Mission is a participation in the spirit of Christ himself, as proposed by our holy founder St.Vincent: He sent me to preach the good news to the poor”(luk 4:18). Everyone thinks that it is enough to help the poor financially. In the first, we must know the kinds of the poor. Many people think that being poor means not having money, houses, good clothes, cars ect. The meaning of the poor in this era is more than that, the poors are not only the ones who don’t have those materialistic things. The poor can be the one who needs attention, affection, and love.
St.Vincent has given us examples how to serve and love poor people like we love God himself. St.Vincent told us: “The poor people are our masters.” Why did St.Vincent said so? Because God presents in the life of the poor and he said: “What we do for the poor people, we do for God.” We know that is not easy to do. But, if we really realize and live in the spirit of the St.Vincent our holy founder, I believe we will be able to serve each other like we serve God himself. St.Vincent has handed it down for us the 5 virtues to remind us to have a spirit loyalty to follow God. They are humility, simplicity, meekness, mortification, and zeals for souls. I give thank to God because I can know the poor people better from HOM (hari orang miskin) program. I know I can not help them by giving them money, but I believe that, becoming their friend and stay with them for a while will give a little color in their life . I learn more from them about the virtues of life. Many people just talk about the poor people but just a few of them want to do somethings for the poor. They are merely objects. I realize some questions in my temptation, do I really love them like I love God? Affectively? All that I can do is giving myself with all my heart. Maybe just come, sit, chat, and hear their story. Sometime poor people need someone to listen, and to appreciate them.
In them I find true happiness although they live in a very simple way. But, they can laugh and give thanks to God. On the other way round, many people are not satisfied with what they have, in fact many people desire to have more and more. In them I find humility inspire of the fact that they run a very simple life. In them, I learn how to be grateful to God by their words and actions. For example, when I met my HOM friends on every Sunday, I often hear they give thanks to God, although for just simple things. From that all, I can say we learn more of the poor people. So, the important question for us, what can we do to participate in their life? in reality, we do not evangelize them but indeed they evangelize us and we must learn more from their life. So, we must remember that and save it in our hearts “we are called to serve”, to serve each other especially for the poor because God presents in the life of the every human being.
Happiness seems small if you just keep it in your hand but when you share it you will realize how big and precious it is

cerpen 1 dan 2

SUATU SIANG DI JEMBATAN KAPUAS
Fr. Santo Andreas, CM


Jam wekerku menunjukan angka 04.30 pagi, itu berarti aku harus cepat-cepat bangun dan membantu ibuku untuk menyiapkan jualannya. Setelah itu aku siap-siap untuk berangkat sekolah. Hari ini merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh semua siswa/i yang ada di sekolahku, karena hari ini kami semua mengetahui pengumuman mengenai jurusan yang akan kami terima. Setelah tiba di sekolah, aku langsung menuju ke papan pengumuman, setelah berdesak-desakan dengan teman-teman karena penasaran akan hasil pengumuman itu akhirnya aku pun berhasil berada di depan dan ketika kucari-cari namaku, aku terkejut karena namaku termasuk sebagai salah satu siswa yang akan menepati kelas IPA(Ilmu Pengetahuan Alam). Aku merasa senang karena kelas IPA di sekolahku merupakan kelas yang cukup di favoritkan karena hanya ada satu kelas IPA sedangkan ada lima kelas untuk kelas IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial).
Keesokan harinya kami sudah mulai memasuki kelas kami masing-masing, seperti yang tertulis di papan pengumuman kemarin. Setiba di sekolah aku pun langsung menuju kelasku yang berada di lantai dua dan. Aku hanya terpaku di depan kelas karena merasa bingung untuk memilih tempat duduk, karena ternyata sudah cukup banyak orang-orang yang sudah memilih bangku mereka masing-masing. Akhirnya setelah cukup lama mengamat-amati aku pun menemukan sebuah kursi yang masih kosong yang berada di pojok kiri paling belakang, aku merasa lega sekali walaupun berada paling belakang yang penting dapat tempat duduk dari pada tidak, kataku dalam hati. Setelah mendapat tempat duduk akupun meletakkan tasku di atas meja yang terbuat dari kayu dan di cat coklat itu. Ketika bel sekolah berakhir aku menuruni tangga yang berada di sebelah kanan kelasku dan tanpa sengaja aku melihat seorang wanita yang pernah aku kenal sebelumnya. Pertemuan kami itu berawal dari acara Valentine yang di adakan oleh sekolahku. Nama lengkapnya Elisabet Kurnia, namun biasa dipanggil dengan nama Elis. Orangnya sangat periang dan ceria. Awalnya aku hanya bepikir mungkin aku hanya salah lihat aja, karena sepengetahuanku sewaktu berkenalan dengannya, ia mengaku bersekolah di salah satu sekolah yang berada di samping sekolahku. Aku memperjelas pengelihatanku dan ternyata benar bahwa ia memang orang yang aku maksud yaitu Elis. Seorang gadis yang berperawakan manis dan berambut panjang itu. Aku berjalan agak cepat agar bisa menghampirinya, setelah berhasil menemuinya kami sama- sama terkejut karena tidak menyangka akan bertemu lagi setelah perjumpaan malam itu di acara valentine.
Hari ini setelah sampai di sekolah dengan tidak sengaja aku berjumpa dengan dia yang kebetulan juga baru sampai dan diantar oleh seorang pria yang kemudian ku ketahui adalah ayahnya. Aku menyapanya dan kemudian sambil berjalan kami sambil ngobrol dan ia memberi tahuku bahwa ia sengaja pindah ke sekolah ini karena menuruti permintaan orangtuanya. Setelah mengetahui bahwa ia berada di kelas IPS yang bertempat di lantai atas juga yag tidak begitu jauh dari kelasku. Aku menawarkan diri untuk mengantarnya sampai ke kelasnya dan ia menyetujui tawaranku sembari menebarkan senyuman khasnya yang bisa membuatku terdiam dan terpaku. Hari demi hari hubungan kami semakin dekat, kami sering ke kantin bersama, duduk bersama sewaktu jam istirahat. Hari demi hari kami saling berbagi cerita dari pengalaman hidup sampai situasi keluarga kami masing-masing. Setelah cukup lama mengenal Elis akhinya akupun mengetahui bahwa ia berasal dari keluarga yang kaya, ayahnya seorang pengusaha dan ibunya juga seorang wanita karier.
Hari ini seperti biasa setelah tiba di sekolah aku pun berencana untuk menjumpai Elis di kelasnya. Setiba ku di kelasnya, ku lihat Elis sedang duduk di kursinya dengan sedikit menunjukkan wajah yang sedang bersedih. Akupun menghampirinya dan duduk di sampingnya dan menanyainya tentang apa yang terjadi dengannya hari ini sehingga ia kelihatan sedih. Ia hanya mengatakan tidak ada yang terjadi dengannya dan ia mengatakan mungkin dia hanya kurang sehat saja, namun aku mengetahui bahwa hal itu tidak benar dan pasti ada yang terjadi denganya karena tidak seperti biasanya ia beprilaku seperti itu. Akhirnya setelah bel berbunyi akupun meninggalkan kelasnya menuju ke kelasku. Sepulang sekolah aku menunggu Elis di halaman sekolah, ketika itu ku lihat ia baru keluar dari kelasnya dan ku tunggu ia sebentar. Akhirnya ia pun datang dan aku menawarkan diri untuk pulang bersama-sama dan ia menyetujuinya. Dalam perjalanan ia masih diam dan itu sangat membuat aku merasa aneh karena tidak seperti biasanya ia seperti itu. Akhirnya setelah ku tanya berulang-ulang kali akhirnya ia pun mau menceritakan kepadaku mengenai masalah yang ia alami.
Ia menceritakan masalahnya kepadaku sambil kami bediri di sebuah jembatan yang cukup besar yang dibangun di atas sungai Kapuas yang berada tidak jauh dari sekolah kami, yang sering kami sebut dengan nama Jembatan Kapuas. Ia merasa sedih karena belakangan ini ayah dan ibunya sering berkelahi dan ribut-ribut di rumah, hal itu menjadi beban pikirannya karena ia merasa selama ini ia kurang mendapat perhatian dari kedua orangtuanya yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Mendengar cerita Elis dan turut prihatin, aku hanya bisa diam dan mendengar semua keluh kesahnya saja. ketika sudah cukup lama kami berada di Jembatan Kapuas itu akhirnya kami bersepakat untuk pulang. Setiba ku di rumah, yang ada dalam pikiran ku hanyalah tentang Elis saja, memang sejak mengenal dia aku sudah merasa tertarik padanya namun hal ini tidak aku ungkapkan kepadanya karena aku tidak mau persahabatan yang telah kami jalani selama ini akan rusak hanya karena hal seperti ini dan aku juga menyadari perbedaan yang ada pada kami.
Esoknya sewaktu di sekolah aku berencana menjumpainya lagi dan hari ini ia masih seperti kemarin masih sedih dan tidak seceria dulunya sewaktu pertama kali aku menjumpainya. Aku masih tetap diam sewaktu berada di kelasnya, namun tiba-tiba ia berkata kepada ku agar sepulang sekolah nanti ia ingin menjumpaiku di tempat yang sama seperti kemarin yaitu di Jembatan Kapuas. Sewaktu pulang sekolah aku sempat melihat ke kelasnya dan ternyata kelas mereka sudah pulang duluan dan aku mempercepatkan langkahku agar aku cepat sampai di sana. Dari kejauhan telah ku lihat Elis sudah berada di sana, sambil berdiri ia memandang ke bawah jembatan. Aku meminta maaf padanya karena telah membuat dia cukup lama menunggu. Setibaku di sana ia langsung memelukku sambil menangis, aku bertanya padanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya. Ia menjelaskan kepadaku bahwa kedua orangtuanya masih saja terus bertengkar sampai-sampai ingin berpisah, itulah yang membuatnya merasa sedih dan menangis. Awalnya aku hanya bisa diam saja, namun aku memberanikan diriku untuk berbicara dan aku katakan kepadanya untuk tabah dan banyak berdoa memohon bimbingan Tuhan, aku berusaha untuk menghiburnya karena aku tak ingin melihat orang yang selama ini aku sayangi meskipun hanya sebagai sahabat selalu dirundung kesedihan. Setelah pertemuan di Jembatan Kapuas itu, aku langsung mengantarnya pulang karena aku juga takut kalau terjadi sesuatu pada dirinya. Dan aku harap ia baik-baik saja sampai keesokan hari kami bertemu lagi di sekolah seperti biasa.
Hari ini aku agak telat tiba di sekolah sehingga aku tidak sempat mengunjungi Elis di kelasnya sehingga aku mengurungkan niatku sampai bel tanda istirahat berbunyi. Perasaanku mulai menjadi tidak enak, takut terjadi sesuatu pada Elis. Ketika bel berbunyi yang manandakan waktunya istirahat, aku bergegas menuju kekelas Elis untuk melihat keadaanya. Namun setibaku di kelasnya, aku tidak melihat Elis di sana. Tiba-tiba salah seorang teman sekelasnya memberitahuku bahwa hari ini Elis tidak masuk sekolah tanpa ada alasan. Aku berpikir sejenak dan merasa heran, mengapa ia sampai tidak masuk sekolah dan tanpa keterangan lagi. Aku berencana mengunjunginya setelah pulang sekolah nanti, sehingga sewaktu berada di dalam kelas aku tidak konsentrasi karna yang kupikirkan hanyalah keadaan Elis. Ketika jam 13.30 yang manandai jam pelajaran hari ini telah selesai, aku langsung meninggalkan sekolah dan menuju ke rumah Elis. Aku mempercepatkan langkahku sehingga kelihatan agak sedikit berlari agar aku lekas tiba di rumahnya. Alangkah terkejutnya aku ketika ingin melintasi Jembatan Kapuas dimana kami sering nongkrong dan bercerita di sana. Ketika itu aku melihat seorang gadis berdiri di tepi jembatan itu dengan mengenakan seragam sekolah. Sudah dapat kuterka bahwa gadis itu adalah Elis. Aku berlari sangat cepat menuju kearahnya, namun ia meneriakiku untuk tidak mendekatinya. Elis yang dulu ku kenal sebagai seorang wanita yang manis, bersemangat dan ceria ternyata hari ini ingin meninggalkan dunia ini dengan melompat dari atas jembatan itu yang kurang lebih berketinggian 50 meter dengan airnya yang sangat deras. Aku merasa takut dan sedih sehingga bingung mau berbuat apa.
Aku terus meneriakinya dan membujuknya untuk membatalkan niatnya, namun tanpaknya usahaku akan sia-sia karena sepertinya keputusannya sudah bulat. Sambil menangis ia berkata kepadaku bahwa tiada gunanya lagi ia hidup di dunia ini karena semuanya terasa menyiksanya, dan ia sudah tidak mampu hidup dengan tanpa perhatian dari kedua orangtuanya. Aku berkata dalam hatiku, mungkinkah hari ini merupakan hari terakhir aku melihat Elis? orang yang selama ini sangat aku sayangi sebagai seorang sahabat yang senantiasa berbagi suka dan duka. Namun secara tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti di belakangku dan keluar dari mobil itu, dan ternyata mereka adalah kedua orangtuanya Elis. Ibunya meminta sambil menangis agar Elis tidak melakukan hal itu, begitu juga dengan ayahnya. Kedua orangtuanya berjanji tidak akan berpisah dan mengungkapkan kata-kata yang ingin menjelaskan kepada Elis betapa mereka sangat menyayangi dan mencintai anak satu-satunya yang mereka miliki itu. Melihat kehadiran kedua orang tuanya akhirnya Elis pun mengurungkan niatnya dan berlari memeluk kedua orang tuanya. Sewaktu menyaksikan kejadian itu aku sangat merasa takut, takut kalau aku kahilangan Elis juga. Setelah itu Elis menghampiriku dan memelukku sambil berkata kepadaku bahwa ia juga tidak mau kehilangan diriku. Mendengar hal itu jantungku tersentak dan aku katakan kepadanya bahwa aku juga tidak mau kehilangan dia karena dia merupakan seorang sahabat yang terbaik yang pernah aku kenal selama hidupku.
Aku menyadari bahwa kebahagiaan tidak dapat diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan,dan kesuksesan dalam bekerja dll. Namun kebahagiaan hanya dapat diperoleh jika seseorang dapat merasakan damai dalam dirinya dan merasakan kasih dari semua orang. Sahabat sejati menguatkan seseorang dengan doanya, menyemangati seseorang dengan harapannya dan memberkati seseorang dengan kasihnya. Dan inilah yang terjadi dalam jalinan antara aku dan Elis. Meskipun sekarang aku dan Elis berada pada tempat yang berjauhan, namun doa, harapan dan kasihku tetap aku berikan kepadanya. Sejak peristiwa di Jembatan Kapuas itu, aku bersyukur kepada Tuhan karena hari itu bukan merupakan hari terakhir aku melihatnya. Inilah yang kurasakan sebagai persahabatan yang sejati dimana seseorang sahabat akan selalu ada saat suka maupun duka.
Ada tiga hal yang tidak dapat dibeli dengan uang. Damai, Kasih dan Persahabatan


Cerpen Tentang Persahabatan

Judul: Arti Persahabatan

Bagiku arti persahabatan adalah teman bermain dan bergembira. Aku juga sering berdebat saat berbeda pendapat. Anehnya, semakin besar perbedaan itu, aku semakin suka. Aku belajar banyak hal. Tapi ada suatu kisah yang membuat aku berpendapat berbeda tentang arti persahabatan. Saat itu, papa mamaku berlibur ke Bali dan aku sendirian menjaga rumah...

“Hahahahaha!” aku tertawa sambil membaca.

“Beni! Katanya mau cari referensi tugas kimia, malah baca komik. Ini aku menemukan buku dari rak sebelah, mau pinjam atau tidak? Kamu bawa kartu kan? Pokoknya besok kamis, semua tugas kelompok pasti selesai. Asal kita kerjakan malam ini. Yuhuuuu... setelah itu bebas tugas. PlayStation!” jelas Judi dengan nada nyaring.

Judi orang yang simpel, punya banyak akal, tapi banyak juga yang gagal, hehehe.. Dari kelas 1 SMA sampai sekarang duduk di kelas 2 - aku sering sekelompok, beda lagi kalau masalah bermain PlayStation – Judi jagoannya. Rasanya seperti dia sudah tau apa yang bakal terjadi di permainan itu. Tapi entah kenapa, sekalipun sebenarnya aku kurang suka main PlayStation, gara-gara Judi, aku jadi ikut-ikutan suka main game.

Sahabatku yang kedua adalah Bang Jon, nama sebenarnya Jonathan. Bang Jon pemberani, badannya besar karena sehari bisa makan lima sampai enam kali. Sebentar lagi dia pasti datang - nah, sudah kuduga dia datang kesini.

“Kamu gak malu pakai kacamata hitam itu?” Tanyaku pada Bang Jon yang baru masuk ke perpustakaan. Sudah empat hari ini dia sakit mata, tapi tadi pagi rasanya dia sudah sembuh. Tapi kacamata hitamnya masih dipakai. Aku heran, orang ini benar-benar kelewat pede. Aku semakin merasa unik dikelilingi dua sahabat yang over dosis pada berbagai hal.

Kami pulang bersama berjalan kaki, rumah kami dekat dengan sekolah, Bang Jon dan Judi juga teman satu komplek perumahan. Saat pulang dari sekolah terjadi sesuatu.

Kataku dalam hati sambil lihat dari kejauhan “( Eh, itu... )”.
“Aku sangat kenal dengan rumahku sendiri...” aku mulai ketakutan saat seseorang asing bermobil terlihat masuk rumahku diam-diam. Karena semakin ketakutannya, aku tidak berani pulang kerumah.
“Ohh iya itu!” Judi dan Bang Jon setuju dengan ku. Judi melihatku seksama, ia tahu kalau aku takut berkelahi. Aku melihat Judi seperti sedang berpikir tentangku dan merencanakan sesuatu.
“Oke, Beni – kamu pergi segera beritahu satpam sekarang, Aku dan Bang Jon akan pergoki mereka lewat depan dan teriak .. maling... pasti tetangga keluar semua” bisikan Judi terdengar membuatku semakin ketakutan tak berbentuk.

Karena semakin ketakutan, terasa seperti sesak sekali bernafas, tidak bisa terucapkan kata apapun dari mulut. “...Beni, ayo...satpam” Judi membisiku sekali lagi.

Aku segera lari ke pos satpam yang ada diujung jalan dekat gapura - tidak terpikirkan lagi dengan apa yang terjadi dengan dua sahabatku. Pak Satpam panik mendengar ceritaku – ia segera memberitahu petugas lainnya untuk segera datang menangkap maling dirumahku. Aku kembali kerumah dibonceng petugas dengan motornya. Sekitar 4 menit lamanya saat aku pergi ke pos satpam dan kembali ke rumahku.

“Ya Tuhan!” kaget sekali melihat seorang petugas satpam lain yang datang lebih awal dari pada aku saat itu sedang mengolesi tisu ke hidung Bang Jon yang berdarah. Terlihat juga tangan Judi yang luka seperti kena pukul. Satpam langsung menelpon polisi akibat kasus pencurian ini.

“Jangan kawatir... hehehe... Kita bertiga berhasil menggagalkan mereka. Tadi saat kami teriak maling! Ternyata tidak ada tetangga yang keluar rumah. Alhasil, maling itu terbirit-birit keluar dan berpas-pasan dengan ku. Ya akhirnya kena pukul deh... Judi juga kena serempet mobil mereka yang terburu-buru pergi” jawab Bang Jon dengan tenang dan pedenya.
Kemudian Judi membalas perkataan Bang Jon “Rumahmu aman - kita memergoki mereka saat awal-awal, jadi tidak sempat ambil barang rumahmu.”

Singkat cerita, aku mengobati mereka berdua. Mama Judi dan Ban Jon datang kerumahku dan kami menjelaskan apa yang tadi terjadi. Anehnya, peristiwa adanya maling ini seperti tidak pernah terjadi.
“Hahahahaha... “ Judi malah tertawa dan melanjutkan bercerita tentang tokoh kesayangannya saat main PlayStation. Sedangkan Bang Jon bercerita kalau dia masih sempat-sempatnya menyelamatkan kacamata hitamnya sesaat sebelum hidungnya kena pukul. Bagaimana caranya? aku juga kurang paham. Bang Jon kurang jelas saat bercerita pengalamannya itu.

“( Hahahahaha... )” Aku tertawa dalam hati karena mereka berdua memberikan pelajaran berarti bagiku. Aku tidak mungkin menangisi mereka, malu dong sama Bang Jon dan Judi. Tapi ada pelajaran yang kupetik dari dua sahabatku ini.

Arti persahabatan bukan cuma teman bermain dan bersenang-senang. Mereka lebih mengerti ketakutan dan kelemahan diriku. Judi dan Bang Jon adalah sahabat terbaikku. Pikirku, tidak ada orang rela mengorbankan nyawanya jika bukan untuk sahabatnya