Jumat, 24 Mei 2013

SEKSUALITAS DALAM PERSPEKTIF KAUM BERJUBAH (DALAM PENGHAYATAN KAUL KEMURNIAN)


SEKSUALITAS DALAM PERSPEKTIF KAUM BERJUBAH
(DALAM PENGHAYATAN KAUL KEMURNIAN)
FR.SANTO ANDREAS. CM
Pengantar
Pendapat manusia mengenai seks mengalami perkembangan dari zaman ke zaman. Berbagai macam pengertian mengenai seks dialami oleh setiap orang secara berbeda-beda. Dari zaman ke zaman pemahaman tentang seks juga mengalami perubahan dan berbedaan cara pikir, cara pandang sehingga setiap orang yang tinggal di suatu zaman tertentu mengalami dan memperoleh perbedaan dalam memahami seksualitas. Pada kesempatan ini, penulis akan memberi serta memaparkan sedikit kilas pandang pemahaman akan seks dari zaman ke zaman. Tentunya sebagai umat katolik, yang akan menjadi pegangan serta tolak ukur kita untuk dapat memahami Seksualitas ialah dari Kitab Suci yang menjadi dasar dari iman kita serta dari warisan-warisan Bapa-Bapa Gereja serta dari tulisan-tulisan Magisterium. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kita akan melihat secara kilas pandang pemahaman serta pengertian dari Kitab Suci dan Bapa-Bapa Gereja mengenai seks. Setelah itu kita akan mambahas secara tersendiri mengenai “Seksualitas dalam Kaum Berjubah”.

Kitab Suci
Menjadi sebuah kemajuan di dalam KS ialah adanya pendekatan positif terhadap seks dan seksualitas manusia (sebagaimana juga terdapat di dalam buku-buku etika seksual). Adanya Kitab Kidung Agung diantara buku-buku Perjanjian Lama dengan sangat jelas menujukkan penghargaan serta diperbolehkannya cinta erotik[1]. Tentu saja, apa yang dilukiskan di dalamnya oleh tradisi dan disuguhkan sebagai suatu kiasan cinta atau persahabatan antara Allah dengan Israel, antara  Gereja dan umatnya. Bagaimanapun juga, sebagian besar ahli Kitab Suci telah menunjukan dan menjelaskan bahwa sepertinya hal itu merupakan maksut dan tujuan awal pengarang. Apa yang terungkap di dalamnya jelas merupakan sebuah syair, atau sekumpulan syair, yang mengungkapkan persahabatan erotik.  Sebagaimana yang telah mereka akui bahwa semua yang ada di dalamnya merupakan bahan yang sangat sesuai untuk menggambarkan relasi yang intim atau sebuah hubungan cinta yang mendalam sehingga kita dapat menyebutnya sebagai kitab Suci:
“Pemenuhan seksual manusia, dapat disempurnakan dalam hubungan cinta timbal-balik antara wanita dan pria: Ya, hubungan cinta timbal-balik inilah yang dimaksutkan oleh Kidung Agung, yang kemudian secara literer memiliki makna teologis yang mendalam. Kita tentunya senang bahwa Kitab Suci secara eksplisit memberikan kesaksian bagaimana penyelenggaraan ilahi itu bekerja”.dalam Kidung Agung, juga ingin disampaikan bahwa cinta yang terjalin antar manusia hendaknya bersifat timbal-balik, bukan sepihak saja.
Dalam menyoroti tema tentang etika seksualitas yang terdapat dalam Kidung Agung, para penulis kristiani modern seringkali menyebut kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian. Disana, mereka mengatakan bahwa dalam kisah penciptaan sangat jelas bahwa Allah menciptakan seks, sungguh hal itu amat baik. Kebahagiaan dari mereka yang saling mencintai ditampakkan sebagai suatu bagian penting dari rencana Allah (Allah menginginkan mereka supaya bahagia). Selanjutnya, kesetaraan antara pria dan wanita merupakan bagian yang hampir nyata, jika tidak dengan tepat ditekankan. Pria dan wanita (keduanya)  termasuk ke dalam penyataan Allah yang mana mengatakan bahwa “manusia diciptakan menurut gambar Allah”.(bukan hanya laki-laki, tetapi seluruh manusia tanpa terkecuali). Ditambahkan pula oleh beberapa penulis disini bahwa kesatuan dua jenis kelamin (pria dan wanita) menunjukan betapa tinggi gambaran yang diberikan orang-orang Israel untuk menunjukan hubungan Allah dengan umat-Nya. Semua ini sungguh nyata dan amat indah jika sengguh-sungguh dipahami dalam terang iman katolik yang benar.
            Jika kita mengabaikan dan meninggalkan Perjajian Lama, kita tidak mungkin akan menemukan banyak bahan yang berbicara tentang seks manusia. Tetapi didalam Perjanjian Baru, kita menemukan bagaimana Yesus yang didalam perjamuan nikah dan mengulangi penyataan  kunci teks Kejadian; ‘Tidakkah kamu baca bahwa Pencipta menjadikan mereka laki-laki dan perempuan sejak dari permulaan dan demikian. Dia berfirman: karena itulah mengapa laki-laki harus menunggalkan ayah dan ibunya dan disatukan dengan istrinya, dan keduanya menjadi satu daging?’ (Mat 19:4-5). Apa yang mungkin diceritakan dalam penulisan Perjanji Baru adalah mengacu pada pilihan personal Paulus untuk hidup selibat (kekecualian).
            Sebagaimana telah diungkapkan diatas, ada alasan-alasan baik untuk tidak menoleh kepada Alkitab sebagai mutlak dan hanya penuntun pada etika. Namun para penulis modern yang berbicara tentang etika sexualitas telah mengerjakannya sesuatu yang baik. hal itu nampak kepada kita, ketika mereka menekankan perbedaan antara sikap positif secara umum tentang seks dan sexualitas yang ditemukan dalam Kitab Suci dan pandangan negatif tentang seks dan seksualitas dalam Kitab Suci oleh para penulis Kristen yang bermunculan dikemudian harinya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah jika pemikiran negatif tidak mempunyai dasar dalam Kitab Suci, lalu dimana itu ditemukan? Dari mana hal itu datang?

Para Bapa Gereja
Hanya dalam abad keduapuluh orang-orang Kristiani mempunyai keberanian dalam suatu cara umum untuk menerima seks dan mengabaikan maksud yang lain, persetubuhan dapat dibenarkan dan dihargai sebagai ungkapan suatu hubungan mendalam kedua pribadi. Kita tidak menyalahkan Kristianitas dan orang-orang kristani pada abad-abad awal, kita melihat ada kesalahpahaman awal sifat-sifat yang tidak kompromi antara pemikiran orang-orang kafir dan pemikiran orang-orang kristiani.
Tidak banyak yang meragukan bahwa Gnostisisme[2] merupakan sebuah kesesatan yang mencoba untuk bersikap dan berpendirian kompromistis. Toh bagaimanapun, Gnostik bukanlah orang-orang kristiani ortodok. Ada para sarjana,  yang mencurigai bahwa mereka yang hendak membersihkan atau memurnikan Gereja dari pengaruh Gnostisisme tidak akan berhasil seperti beberapa kurun waktu sejarah yang dapat menuntun kita untuk percaya. Ada beberapa macam Gnotisicisme, tetapi kita dapat sekurang-kurangnya  mengatakan ada kecendrungan umum dalam seluruh gerakan mengapa dunia materi sebagai jahat dan dunia rohani sebagai  yang baik -  suatu dualisme yang mana, dalam beragam samaran, juga ditemukan dalam beberapa agama lain. Banyak para Bapa Gereja melawan pemahaman itu, bahkan sampai dalam kurun waktu yang lama dan bersikeras berperang dengan Gnostik. Meskipun, sejumlah sarjana telah mengusulkan bahwa beberapa dari mereka itu sama dengan para Bapa Gereja, mereka sendiri juga dipengaruhi tidak sedikit oleh pengajaran akan apa yang menjadi perlawanan mereka, sehingga mereka menjadi berlebihan dengan mewaspadai dunia sexual pada umumnya dan secara lebih khusus mengangkat sesuatu yang amat negatif  dan contohnya yaitu pesimistik terhadap sex dan sexualitas. Yang lain mungkin sedikit lebih berhati-hati, dan pokok melulu pada kenyataan perbedaan antara para Bapa Gereja dan Gnostik pada isu-isu tertentu tidak sebesar seperti yang kita sangka. Derrick Sherwin Bailey menulis:
Meskipun gereja mengutuk dualisme penolakan mutlak mereka terhadap ikatan pernikahan, orang kristiani berpikir tentang topik seksualitas tidak semuanya bertentangan dengan Gnosticisme. Ada suatu bahasa yang sama, dan masih banyak lagi, dari rasa iri  diantara tulisan patristik dan para teosofi dan kisah cinta yang diragukan yang membuatnya tidak mungkin meragukan bahwa banyak para Bapa yang sebagian besar dengan sangat berhati-hati dalam sikap emosional mereka pada umumnya tentang perkawinan dan persetubuhan.”
Salah satu tokoh yang lebih moderat dari antara Bapa-Bapa Gereja yang pemisistis itu tampak pada, Yohanes Krisostomus. Beberapa waktu selama sepertiga abad keempat, ia menulis risalah keperawanan dimana didalamnya ia menampilkan bagaimana keadaan manusia setelah jatuh ke dalam dosa. Setelah jatuh, manusia tidak lagi mampu mengontrol nafsu. Demikian dalam Kitab Suci, Allah menganjurkan pria dan wanita menikah, menjadi berbuah dan berkembangbiak. St Yohanes Krisostomus berpendapat bahwa wibawa keperawanan dan pengawasan diri pada saat manusia jatuh ke dalam dosa akan menghasilkan bencana yang melibatkan semburan kekerasan hawa-nafsu.[3]
Sejaman  dengan Sulpitius dan Yohanes Krisostomus adalah St. Jerome, seorang manusia tidak dinyatakan modern dalam bahasa. Dia menulis dalam sebuah surat yang mana perkawinan dinilai, tetapi sebab hanya itu perawan menjadi sebab kelahiran. Dia memetik bunga mawar dari duri-duri. Selanjutnya, dalam adversus Jovinianumnya, sementara itu upaya keras mengangkat keperawanan, Jerome mengatakan perkawinan merupakan suatu cara yang menghina sebagaimana terampasnya martabatnya. Bahkan St. Agustus merasa bahwa Jerome sudah melangkah terlalu jauh, dan mengumpulkanya dalam suatu risalat mengenai kebaikan perkawinan. Suatu pujian untuk ketetapan menikah yang mana dia mengukapkan itu dalam karyanya, betapapun dilewati secara umum sikap pesimistik terhadap sex. Tidak ada kesalahan yang melekat pada hubungan sexuil (persetubuhan), ia menghimbau kita bahwa orang yang menikah bertujuan untuk menurunkan darinya keturunan. Bagaimanapun juga turut ambil-bagian dalam kegiatan melampaui kebutuhan keturunan, pun dalam perkawinan, adalah suatu dosa yang dapat diampuni.
Sikap Pesimistis terhadap seksualitas juga ditunjukan oleh seorang pemikir Kristen lainnya yakni Tertulianus. Meskipun ortoduksinya (kekolotan) sangat lemah, akan tetapi pemikirannya juga telah memberi pengaruh yang patut dipertimbangkan bagi generasi berikutnya. Sikap pesimestisnya terhadap seksuslitas terbukti secara khusus dalam ulasan risalah (naskah) singkatnya dalam De exhortatione castitatis. Ia menegaskan bahwa pernikahan dan pesetubuhan di luar nikah (zinah), dibedakan hanya dalam tingkat ketidakabsahannya. Hal itu terjadi karena relasi seksual melibatkan keduanya (pria dan wanita). Menurut Tertulianus, Tuhan kita mengatakan bahwa setiap hasrat yang hanya menuruti kesenangan diri , itu sama seperti melakukan persetubuhan di luar nikah. Dalam menjawab keberatan-keberatan orang yang mengatakan bahwa ajaranya telah merusak semua paham perkawinan, dalam tindakkan manusia yang melupakan esensi dari perkawinan adalah tindakan yang merusak kerena melihat perkawinan sebagai saranan untuk melalukan perzinahan.
Tokoh yang sangat berpengaruh dan tentu saja terbesar dari para Bapa Gereja adalah,  St Agustinus. Sejarah hidupnya memperlihatkan kepada kita bahwa ia tampaknya tidak dapat mengurusi hidup seksualnya dengan baik. Pada masa mudanya ia sungguh giat dan liar dalam kehidupan seksualitasnya, bahkan kadang-kadang, ia memiliki masalah dengan isteri-isteri orang lain. Pada akhirnya, dia terlibat dalam relasi dengan seorang wanita yang namanya tidak kita ketahui. Dia melahirkan seorang putra baginya, dan hubungan mereka kurang lebih tiga-belas tahun. Ketidakmampuan dalam membina hidup bersama rupanya menentukan fakta yang berkaitan dengan perkawinannya. Bagaimanapun juga, dibawah pengaruh ibunya, ia mampu melihat kebijaksanan menikah (manfaat akan permenikahan). Tapi persoalannya lain,  Agustinus menemukan kelaparan akan seks dalam dirinya sendiri dengan perempuan-perempuan lain. Dalam pengalamannya, (sebagaimana ditulis oleh Virginia Curran Hoffman,) seks bukanlah sebuah ikatan cinta dan kedalaman sebuah hubungan; seks merupakan suatu kebutuhan, suatu yang dapat menjawab rasa lapar manusia. Ia mengunakan wanita untuk menghilangkan rasa lapar itu. Kisah-kisah yang sampai kepada kita menunjukan pertualangan seksual Agustinus sebelum bertobat. Lalu bagaimana sikap kita dan pemahamannya terhadap seksual manusia setelah dia bertobat?
Dalam pandangan Hoffman, dia mengambarkan bahwa banyak sarjana akan setuju bahwa Agustinus adalah seorang yang memiliki kecanduan terhadap seks. Hoffmann mencatat bahwa dalam lingkaran kecanduannya adalah sangat normal untuk memisahkan antara pantang-menahan nafsu (hanya melakukan tanpa hakekat atau proses keterlibatan) dan dengan kesungguhan hati dan menyembuhkan. Adalah mungkin untuk menjauhkan diri (berpantang) tanpa sungguh-sungguh berurusan dengan sumber masalahnya. Seseorang yang melakukan pantangan itu, kadang-kadang mengacu ke konteks kecanduan alkhol sebagai seorang ‘pemabuk’, berusaha untuk menhilangkan kecanduannya tetapi tanpa zat kimia’. Dengan kata lain ia telah mencoba dengan kesungguhan hati dan secara terus-menerus mengambil bagian dalam program penyembuhan. Program penyembuhan ini antara lain dilakukan dengan cara mengantikan kerusakan sifat yang dimiliki sebelumnya dan memberi diri untuk disembuhkan oleh penyembuhan yang terpercaya. Dalam menjelaskan garis pemikiran Agustinus ini, Hoffman kemudian sampai pada kesimpulkan bahwa ia adalah seorang penahan nafsu, tetapi tidak menyembuhkannya. Teologinya mengingkari obsesi seorang kecanduan. Dampaknya adalah bahwa obsesinya terhadap seks hanya merupakan sebuah kekuatan setelah pertobatannya sebagaimana sebelumnya.
Tetapi pada saat yang sama, dengan terus terang dia mengatakan menyesal atas pandangannya yang melihat seksualitas manusia semata-mata untuk menghasilkan anak belaka. Dia bahkan menulis bahwa menggunakan perkawinan dengan sesuka hati dan melihatnya hanya sebagai sarana untuk memperoleh keturunan adalah termasuk dalam dosa ringan. Namun disisi lain ia memperbolehkan untuk menjadikan perkawinan sebagai sarana untuk memperoleh keturunan tetapi bukan pertama-tama karena nafsu birahi. Ia mengatakan nafsu birahi merupakan dosa. Agustinus mengatakan, daging tidak mutlak dilihat sebagai sesuatu yang jahat, tetapi bergantung pada takaran mana kita mengizinkan pengaruh daging itu dalam diri kita. Perbedaan antara doa posisi ini tentu saja sangat mendasar, tetapi pengaruhnya terhadap praktik Kekristenan hampir sama dari abad ke abad.
            Setelah kita melihat pandangandan uraian yang terdapat dalam Kitab Suci dan Bapa-Bapa Gereja mengenai seks dan seksualitas manusia, baiklah kita tidak langsung mengambil pendapat untuk mengikuti pendapat Kitab Suci dan Bapa-Bapa Gereja secara membabi buta, artinya secara buta dan pasrah tanpa melihat, memahami, dan merefleksikannya secara lebih menyeluruh dan mendalam. Kita juga tidak bisa begitu saja menerima atau menolak pendapat-pendapat, pemahaman, pengertian yang telah dituangkan dalam KS ataupun Bapa-Bapa Gereja begitu saja. Oleh karena itu perlu pemahaman yang tepat dan benar seiring dengan situasi dan kondisi kehidupan kita dijaman ini dan sekarang.

Mungkin pertanyaan ini adalah pertanyaan yang terdengar sangat janggal, yaitu “Apakah hubungan antara seks dengan Kitab Suci, Bapa-Bapa Gereja dan Magisterium Gereja?” Bukankah masalah seks adalah masalah pribadi dari masing-masing keluarga dan tidak ada seorangpun yang dapat campur tangan, termasuk Gereja? Apakah hak dari Gereja untuk mengatur sendi-sendi kehidupan yang bersifat pribadi, yaitu urusan tempat tidur?
Pertama- tama, karena Gereja Katolik, melalui Kitab Suci, Bapa-Bapa Gereja dan Magisterium Gereja mengatur hal-hal yang berhubungan dengan iman dan moral, karena memang Gereja diberi mandat oleh Kristus sendiri untuk menjadi pilar kebenaran. Tuhan Yesus tidak menulis Kitab Suci, atau menurunkan Kitab Suci dari langit. Namun Ia mendirikan Gereja-Nya atas dasar Rasul Petrus (lih. Mat 16:18) dan Gereja-Nya inilah kemudian menentukan Kanon Kitab Suci  dan mengajarkan interpretasinya. Dengan demikian, warisan iman dapat diteruskan dari generasi ke generasi selanjutnya dengan murni.
Kedua, dengan adanya Kitab Suci, Ajaran-ajaran Bapa-Bapa Gereja dan Magisterium Gereja, maka  umat Allah dapat memperoleh kepastian iman yang dipercaya, sehingga tidak terjebak pada kesalahmengertian akan seks dalam kehidupan manusia.  Kristus adalah Sang Kebenaran itu (Yoh 14:6) dan Roh Kebenaran-Nya akan menuntun kita kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:13). Seluruh kebenaran mengacu kepada suatu kebenaran yang sifatnya obyektif, dan bukan tergantung masing- masing orang, yang sifatnya subyektif dan berubah- ubah. Sebab kebenaran yang disesuaikan dengan pandangan masing- masing itu bukan ‘seluruh kebenaran’. Namun jika Kristus yang menentukan pengajaran, kemudian diwariskan kepada para rasul dan para Bapa Gereja, dan para penerus mereka, maka kita dapat meyakini hal tersebut sebagai kebenaran yang penuh, yang sifatnya obyektif dan tidak dapat diubah.
Ketiga adalah, karena perkawinan (meliputi seksualitas di dalamnya) antara laki- laki dan perempuan dimaksudkan untuk menjadi gambaran akan kasih Allah kepada umat pilihan-Nya, kasih Kristus kepada Gereja-Nya. Kasih Allah ini adalah kasih penyerahan diri yang total dan kasih yang menghasilkan buah, seperti yang ditunjukkan oleh kasih Kristus sendiri di kayu salib, yang terus membuahkan anggota-anggota Tubuh-Nya melalui Pembaptisan. Kasih yang demikianlah yang dikehendaki Allah.
Tiga prinsip dasar inilah yang menjadi alasan, mengapa Magisterium Gereja – dengan beberapa dokumen Gereja, termasuk Casti Connubii dan ensiklik Humane Vitae – menyatakan kebenaran bahwa perkawinan dan hubungan suami istri adalah merupakan sesuatu yang sakral/ suci. Perkawinan selain bertujuan untuk mempersatukan suami dan istri, harus juga terbuka terhadap kelahiran anak. Dengan demikian, penggunaan alat kontrasepsi melanggar kesucian perkawinan dan rencana ilahi dalam perkawinan,(diperbolehkan pada kasus-kasus tertentu).
            Sebelum melangkah lebih jauh, bagaimanapun juga kita harus dan perlu sejenak melihat beberapa persoalan tentang seks dan seksualitas manusia yang diungkapkan dan dipaparkan melaui tulisan-tulisan pendahulu kita yang menaruh perhatian besar mengenai seksualitas manusia dalam perspektif iman katolik. Pada pembahasan selanjutnya kita akan melihat bagaimana penghayatan hidup seksualitas didalam kalangan selibater/berjubah.


Seksualitas dalam Perspektif Kaum Berjubah
Tidak dapat kita pungkiri lagi bahwa kehidupan para kaum berjubah di zaman ini cukup banyak dipengaruhi oleh berbagai pandangan serta pemikiran para pendahulu kita (Bapa-Bapa Gereja, Teolog). Oleh karena itu dalam hidup membiara pun (dapat disebut kaum berjubah) tentunya mendapat pengaruh secara langsung maupun tidak langsung dalam menjalani kehidupan.  Pada kesempatan ini kita akan membahas secara terpisah mengenai bagaimana seksualitas dilihat dan dijalani dalam kehidupan kaum berjubah, bagaimana kaum berjubah memandang dan menghayati kehidupannnya sehubungan berhadapan dengan kehidupan seksuilnya sekaligus dalam menghayati hidup sebagai seorang selibater? Sebagai manusia yang normal, setiap manusia tidak dapat terhindar/menghindarkan diri dari kehidupan seksualnya sebagai manusia. Oleh karena itu, baiklah kita sedikit melihat pengaruh-pengaruh serta norma-norma yang harus dijalani oleh kaum berjubah saat ini, tentunya hal itu tidak dapat terlepas dari pengaruh Kitab Suci serta ajaran-ajaran Bapa-Bapa Gereja zaman dahulu. Mau tidak mau kita tetap harus berkontak dan bercermin dari itu semua. Oleh sebab itu, dalam menjalani kehidupan sebagai kaum berjubah perlu memperhatikan beberapa hal ini dalam menjalani panggilan berhubung dengan kehidupan seksualnya.
Kaum selibater (berjubah) Katolik mengikrarkan kaul keperawanan, kemiskinan, dan ketaatan. Ketiga kaul itu merupakan petunjuk hidup bagi mereka, yaitu hidup tidak menikah, tidak memiliki harta kekayaan, dan taat pada kehendak Allah melalui ketaatan kepada pemimpin. Salah satu hal pokok kaul keperawanan adalah seksualitas. Paul Suparno, SJ menjelaskan bahwa seksualitas adalah keseluruhan diri manusia. Tulisan ini bertujuan menjelaskan mengenai seksualitas kaum selibater Katolik secara khusus yakni dengan penghayatan kaul keperawanan. Seksualitas dalam perspektif hidup kaum selibater secara khusus dihayati dalam penghayatan kaul keperawanan terdapat dalam konsep penyerahan diri seutuhnya, penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, dan relasi dengan lawan jenis.oleh karena itu baiklah kita melihat beberapa hal yang kiranya penting dalam memahami seksualitas dalam perspektif kaum berjubah.:

1.      Kaul Keperawanan[4]
Arti kaul keperawanan adalah pengabdian kepada Allah dalam kesucian yang sempurna dengan niat yang tetap utuh dalam pikiran dan badan.  Oleh karena itu, kaul keperawanan menuntut suatu keutuhan yang permanen dalam pikiran, hati,  dan tubuh demi kerajaan Allah. Inspirasi mengenai keperawanan diperoleh dari cara hidup Yesus, Maria, dan para rasul Yesus. Selain itu, inspirasi juga diperoleh dari ayat-ayat Injil. Nabi Yeremia berkata, “Janganlah mengambil istri dan jangan mempunyai anak-anak laki-laki dan perempuan di tempat ini.” Rasul Paulus berkata, “Aku berpendapat bahwa mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya.”Yesus bersabda, “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena kerajaan Surga.”[5] Kesucian juga merupakan panggilan kasih Allah. Seperti yang diungkapkan oleh ibu Theresa. Baginya kesucian/keperawanan adalah kesadaran untuk senantiasa berani mengatakan, “ Aku dapat melakukan segala sesuatu dalam Dia yang menguatkan aku”.[6] Namun dibalik itu, kaul keperawanan/kemurnian juga harus disyukuri. Karena dengan mensyukuri hidup keperawanan, seseorang  dapat menemukan kebahagiaan yang sejati.

2.      Seksualitas[7] dan Spiritualitas
Ketika laki-laki atau perempuan memilih untuk hidup selibat, hal itu tidak berarti ia meninggalkan seksualitasnya. Seksualitas berkaitan dengan penerimaan diri sebagai perempuan atau laki-laki dan dorongan yang menggerakkan kita untuk berelasi dengan  diri sendiri, orang lain, Tuhan, dan alam semesta. Hidup selibat memang seringkali dianggap sebagai hidup tanpa seksualitas. Hal itu tampak dari sikap ekstrem terhadap kecenderungan yang merupakan bagian  dari seksualitas. Suparno menulis: “Kalau kita mengamati praktek hidup selibat dalam biara, kita akan menemukan dua penghayatan ekstrem dalam hal seksualitas.[8] Kita akan menemukan beberapa biarawan-biarawati yang sangat takut dengan hal-hal yang berbau seks dan mencoba bersikap dingin, kering, terhadap lawan jenis. Mereka beranggapan bahwa kalau ingin menjadi biarawan-biarawati yang suci, mereka harus melepaskan semua hal yang berbau seks.  Pandangan seperti itu tidak lepas dari ajaran-ajaran yang pernah ada yang diturunkan oleh para Bapa-Bapa Gereja yang memang pada saat itu masih menganggap seksulitas sebagai sesuatu yang jahat yang harus dihindari. Akan tetapi, pada ekstrem lain, kita dapat menjumpai biarawan-biarawati atau religius yang terlalu berani dalam ungkapan seksualitasnya termasuk dalam pelampiasan dorongan seksnya.  Biarawan-biarawati yang takut berarti menolak pemberian Tuhan yang berupa tubuh kita yang berseksual. Sedangkan yang terlalu berani berarti lupa bahwa mereka adalah selibater yang berkaul untuk tidak menggunakan ungkapan seksual secara langsung, misalnya senggama.”
Seksualitas adalah energi yang suci dan kuat, yang diberikan Tuhan kepada manusia, yang mendorong manusia untuk membangun relasi dengan diri sendiri, sesama, dan Tuhan. Seksualitas membuat manusia menjadi pribadi yang utuh yang dapat mencinta, memperhatikan, dan membangun relasi yang intim dengan orang lain. Pada arah yang sama, spiritualitas mendorong manusia untuk berelasi dengan yang ilahi. Spiritualitas adalah dorongan dalam hati seseorang yang membuatnya mampu berkomunikasi dengan Tuhan dan ciptaan-Nya. Spiritualitas saling berkaitan dengan seksualitas. Keduanya  merupakan energi yang mendorong manusia untuk berkomunikasi, berelasi, membangun persahabatan dengan orang lain, alam semesta, dan Tuhan. Dalam diri Yesus, seksualitas dan spiritualitas menyatu. Ia menangis, marah, dan juga menjalin relasi yang  mendalam dengan Allah Bapa. Oleh karena itu, manusia perlu mengintegrasikan spiritualitas dan seksualitas. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai langkah pengintegrasian itu, yaitu sebagai berikut.
Pertama, spiritualitas dan seksualitas adalah bagian yang menyatu dalam diri manusia bagaikan dua unsur yang melebur menjadi satu bagian yang utuh. Oleh karena itu, keduanya perlu diterima dengan penuh syukur sebagai pemberian Tuhan. Kedua, menerima seksualitas, mengembangkan pengertian seksualitas yang lebih benar dan utuh, dan menyadari bahwa seksualitas bukanlah hal yang jahat, yang menghalangi  hidup membiara. Ketiga, mengembangkan hidup askese yang tepat sehingga dapat membantu manusia keluar dari pengaruh  seksualitas yang berlebihan  dan memberi ruang pada spiritualitas.
3.      Seksualitas Dalam Hidup Kaum Berjubah
Pemahaman yang penting yang patut disadari kaum berjubah adalah bahwa pilihan hidup selibat merupakan panggilan Tuhan dan  pilihan yang bebas. Oleh karena itu, hidup selibat bukanlah  sesuatu yang kaku melainkan sesuatu yang harus berkembang. Ada beberapa hal yang perlu dikembangkan. Pertama, kesatuan dengan Tuhan. Kedua, komunitas tempat tinggal. Ketiga, pelayanaan kepada orang lain. Ketiga hal di atas perlu dikembangkan secara seimbang. Apabila salah satunya tidak berkembang, seseorang akan mengalami krisis. Contohnya, jikalau seseorang terlalu mementingkan pelayanan, ia lupa untuk berdoa. Tak berapa lama kemudian, ia akan mengalami krisis iman. Dalam relasi dengan orang lain, terutama dengan lawan jenis, kaum selibater dapat saja mengalami perasaan jatuh cinta. Hal itu menandakan bahwa kaum selibater adalah manusia utuh dengan seksualitasnya. Akan tetapi, hal itu perlu diarahkan kepada tujuan yang luhur, yang tidak membahayakan satu sama lain. Dalam hal itu, kaum berjubah perlu membuka diri secara jujur baik terhadap patnernya maupun terhadap orang lain. Seksualitas dalam kaum berjubah harus disadari sebagai suatu anugerah yang tidak dapat ditolak atau dihindari. Justru dengan segala yang dimiliki(seksualitas) kaum berjubah dapat menghayati hidupnya secara normal. Pada saat sekarang hendaklah para kaum selibater tidak lagi melihat bahwa kehidupan seksualitas yang adan pada mereka berasal dari yang jahat seperti yang dipikirkan oleh para pendahulu kita.

4.       Seksualitas dan Kaul Keperawanan
Dalam menghayati kaul keperawanan semua kaum berjubah dituntut untuk menyerahkan diri secara utuh.  Kenyataan itu menunjukkan bahwa kaul keperawanan berkaitan erat dengan seksualitas manusia. Konsekuensi dari kenyataan itu adalah bahwa seksualitas tidak dapat dipisahkan dari penghayatan kaul keperawanan. Dengan kata lain, penerimaan seksualitas menjadi penting dalam penghayatan kaul keperawanan. Sebagai contoh, seseorang yang membenci seksualitasnya tidak dapat menyerahkan dirinya secara utuh kepada Allah. Pada sisi yang lain, seseorang yang merealisasikan seksualitasnya secara berlebihan dan melanggar kaul keperawanan bukanlah sesuatu yang baik. Contoh di atas menunjukkan dua sikap ekstrem dalam penghayatan seksualitas, yaitu membenci hal-hal yang berbau seks dan mengumbar hasrat seks. Dua sikap ekstrem itu telah disinggung Suparno. Dua sikap itu pula menjadi tantangan dalam menghayati kaul keperawanan. Ketepatan seorang kaum berjubah dalam merespon dorongan seksualitasnya  mengandaikan bahwa ia mempunyai pemahaman yang memadai tentang seksualitasnya. Oleh karena itu, dengan menyadari hidupn seksualitas yang dimiliki setra bersyukur atas tugas dan kehidupan yang telah diemban, sehingga dengn penuh kerendahan hati menerimanya.[9]
TANGGAPAN DAN PENUTUP
Kompleksitas penghayatan kaul keperawanan menuntut kaum berjubah (selibat) Katolik untuk meningkatkan pengetahuannya akan kaul keperawanan dan seksualitasnya. Aspek penting kaul keperawanan adalah penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan. Penyerahan diri seutuhnya berarti menyangkut seksualitas manusia. Yang perlu diperhatikan juga ialah aspek penting dalam kaul keperawanan ialah penyerahan diri seutuhnya kepada Allah demi kebaikan manusia. Perlu diingat kembali bahwa seksualitas itu merupakan keseluruhan diri manusia yang tidak dapat dihindari atau ditolak. Jikalau demikian, pengenalan  diri yang baik  merupakan sesuatu yang penting dalam penghayatan kaul keperawanan. Pengenalan diri itu meliputi dimensi fisik, psikis, dan dimensi spiritual. Dimensi fisik berkaitan dengan kesadaran bahwa seorang manusia pasti memiliki hasrat-hasrat seksual, hasrat untuk menjalin keintiman. Dimensi psikis berkaitan dengan kesadaran bahwa tindakan manusia dipengaruhi oleh kondisi psikis, di samping kondisi fisik. Dimensi spiritual berkaitan dengan kesadaran bahwa seorang manusia mempunyai kemampuan untuk mengarahkan diri kepada Tuhan. Dengan mengenal ketiga dimensi itu, kaum selibater akan lebih mudah menghayati kaul keperawanan. Mereka akan mampu mengontrol diri, menjalin relasi yang mendalam, dan mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah.[10]
Seperti yang telah kita dengar dan ketahui bahwa Seks dijadikan sebagai suatu alasan yang berasal dari yang jahat sehingga menjadi tabu. Seperti yang diungkapkan oleh Moore, bahwa seks dipercaya sebagai halangan manusia untuk memperoleh kemurnian dalam menggapai kerajaan Surgawi. Seks dijadikan sebagai penghambat dalam memperoleh kehidupan yang sempurna. Oleh sebab itu, hidup membiara menjadi salah satu solusi untuk memperoleh kesempurnaan. Namun, pemikiran kita akan seks pada saat sekarang ini harus lebih terbuka dan lebih luas lagi. Dimana kita tidak lagi memandang seks sebagai halangan/hambatan untuk memperoleh kehidupan yang sempurna. Dapat kita bayangkan, bahwa kehidupan yang kekal juga dapat diperoleh oleh mereka yang hidup berkeluarga, tidak hanya terbatas dan khusus pada orang-orang yang tidak berhubungan seks.
Gereja Katolik Roma mengajarkan bahwa kehidupan manusia dan seksualitas manusia adalah tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya dan adalah suatu yang suci. Oleh karena umat Katolik percaya bahwa Tuhan menciptakan umat manusia berdasarkan citra dan kemiripan-Nya, serta bahwa Tuhan menjadikan semua yang diciptakannya sebagai hal-hal yang "sangat baik" (Kitab Kejadian 1:31),[11] Gereja mengajarkan bahwa tubuh manusia dan seks haruslah baik oleh karenanya. Katekismus Katolik mengajarkan bahwa "tubuh manusia merupakan sendi dari penyelamatan". Gereja menganggap bahwa perwujudan cinta antara suami dan istri sebagai suatu bentuk aktivitas manusia yang lebih tinggi nilainya, menyatukan suami dan istri di dalam bentuk saling menyerahkan diri yang sepenuhnya, dan membuka hubungan mereka pada kehidupan yang baru. "Aktivitas seksual dimana suami dan istri bersatu secara intim dan murni antara yang satu dengan yang lainnya, yang daripadanya kehidupan manusia disalurkan.
Begitu juga bagi kaum berjubah yang menghayati kaul kemurnian/keperawanan sehingga tidak mungkin untuk berhubungan intim (seperti suami/i), oleh karena itu , dengan tidak mengurangi nilai kesucian dari hidup berkeluarga, dalam hidup membiara pun seseorang dapat menjalani dan menghayati hidup seksualnya tentunya dengan cara yang berbeda pula. Yakni dengan mengarahkannya kepada Tuhan, menjalin hubungan yang mendalam yang intim dengan Tuhan dan tidak memandang hidup membiara yang terhindar dari hubungan seks dianggap lebih baik dari pada hidup bekeluarga. Karena para kaum berjubah pun tidak dapat terhindar atau menghindari dirinya dari kehidupan seksualitasnya. Setiap manusia yang merupakan ciptaan Allah yang indah, sempurna akan senantiasa mengalami hal itu selama masih berada di dunia ini. Maka, salah satu cara bagi kaum berjubah menghayati hidup seksulitasnya ialah dengan penerimaan yang utuh serta penyerahan diri secara total kepada Tuhan.





[1] Erotic ialah bentuk ajektiva dari ekspresi erotisisme. Dari erotissisme diistilahkan sebagai erotika (sesuatu yang erotik), yang dapat berupa mimic, gerak, sikap, tubuh, suara, kalimat, benda-benda, aroma, sentuhan, dll.
[2] Gnostisisme ialah sebuah aliran yang cendrung memandang dunia materi sebagai yang jahat dan rohani sebagai yang baik.
[3]  Lihat Bernard Hoose, “Received Wisdom?”, Geoffrey Chapman, 1994.hlm 46-47.
[4] Perawan atau gadis dapat merujuk pada seorang wanita muda atau seorang wanita dewasa yang belum mempunyai suami atau di beberapa kebudayaan merujuk pada wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual atau sanggama dengan seorang pria. Istilah yang lain untuk ini adalah selibat. Secara umum, perawan juga direlasikan dengan kesucian.keperawanan merujuk pada sifatnya.
[6] Lihat Krispuwarna Cahyadi, “ Jalan Kesucian Ibu Teresa”, OBOR: Jakarta, 2003, hlm 6-7
[7] Seksualitas diekspresikan melalui interaksi dan hubungan dengan individu dari jenis kelamin yang berbeda dan mencakup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai, fantasi, dan emosi. Seksualitas berhubungan dengan bagaimana seseorang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengkomunikasikan perasaan tersebut kepada lawan jenis melalui tindakan yang dilakukannya, seperti sentuhan, ciuman, pelukan, dan senggama seksual, dan melalui perilaku yang lebih halus, seperti isyarat gerakan tubuh, etiket, berpakaian, dan perbendaharaan kata (Denny & Quadagno, 1992; Zawid, 1994; Perry & Potter, 2005).
[8]  Lihat Paul Suparno, “ Saat Jubah Bikin Gerah 1” Kanisius: Yogyakarta, 2007, hlm 18-19.
[9] Lihat Paul Suparno, “ Saat Jubah Bikin Gerah 2” Kanisius: Yogyakarta, 2007, hlm 91-92.
[10] Ibid.,hlm 47
[11] Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia(LAI): Jakarta, 2003.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar