Minggu, 09 September 2012

cerpen 6

Satu Jam Bersama Kloset

Tittit…tittit…tittit…
Aargh…! Selalu, selalu, dan selalu! Bunyi Weker ini selalu mengganggu kenikmatanku bersama selimut tebalku. Huaam… Kumatikan bunyi weker. Jam 4.30 WIB. Masih subuh. Dingin ruangan ini telah dari tadi malam menggelitik badanku. Apa yang ia mau? Akupun tak tahu. Entahlah, yang pasti cuaca akhir-akhir ini begitu dingin. Kuhidupkan lampu kamarku. Silau. Setelah menggerakkan sedikit anggota badanku, agar badan sedikit panas, kuambil baju yang tadi malam kugantung di hanger. Aku punya kebiasaan untuk tidur tanpa baju, walau cuaca dingin. Tak heran kalau kegiatan harianku di tempat ini, sebagai calon pastor, sering diselingi oleh bebauan yang “kurang sedap”. Masuk angin. Akhirnya kentut.
Setelah berolahraga kecil, kuambil handuk yang ada di sudut kanan kamarku. Kamarku ini cukup luas untuk ukuran orang ndeso seperti aku. Seluruh dindingnya dicat berwarna putih. Kata Romo yang bertugas di sini, putih melambangkan ketulusan hati kita pada Tuhan, layaknya jubah kita. Whatever, yang pasti aku harus extra hati-hati setiap saat agar putihnya kamarku ini selaras dengan kebersihan dan kerapian barang-barang yang tertata di dalamnya. Apalagi sekarang statusku sebagai seorang frater, otomatis segala macam tingkah lakuku masuk dalam sebuah kerangka pembinaan. Mau jadi apa nanti kalau mengatur diri saja gax beres? Lha, umat mau dibawa kemana?
Kulangkahkan kakiku menapaki ubin demi ubin menuju ke kamar mandi. Dingin. Beberapa temanku juga sudah terbangun. Sebenarnya aku masih sangat mengantuk. Kemarin kami mengadakan kegiatan longmarch yang sangat menguras tenaga. Badanku masih pegal-pegal. Gax ada yang mijat. Gimana bisa dipijat, wong di sini pada kelelahan semua. Lagian cowok semua. Sudahlah, yang pasti aku masih sempoyongan waktu masuk ke kamar mandi. Wuih… Dingin banget! Kalau saja ada pilihan untuk gax mandi, pasti aku ikut. Tapi, mana mungkin ikut misa harian, dengan jubah, tanpa mandi! Memalukan! Kuhidupkan keran air. Deru airnya sebanding dengan hasil hentakan antara rahang atas dan rahang bawahku karena kedinginan. Menggigil. Bisa apa gax ya mandi?  Setelah melakukan Tanda Salib, kuangkat gayung, bersiap untuk mengguyur tubuhku dengan air yang dinginnya mirip dengan air yang baru keluar dari kulkas. Tapi, ada suatu panggilan dari bagian tengah tubuhku. Perutku sakit. Rasanya pingin buang air besar. Ah, sudahlah! Kuurungkan niatku untuk mandi. Aku duduk di kloset. Hm, lumayan juga dinginnya kloset ini. Tak berapa lama, mataku terpejam. Aku menikmati setiap detik suasana. Lega.
Setelah buang air besar, aku melanjutkan mandiku. Tak peduli lagi akan rasa dingin yang menyerang. Setelah semuanya beres, aku bergegas keluar sambil mematikan keran air. Sayup-sayup kudengar di luar pintu bunyi kasak kusuk orang menyuruhku keluar dari kamar mandiku. Suaranya tak kukenal. Siapa orang yang pagi-pagi sudah melanggar silentium? Ah, masa bodoh! Begitu aku keluar…
“Eh, Rm. Joe, mengapa mandi di kamar mandi saya?”
Aku bingung. Rm. Joe? Sejak kapan aku pakai gelar romo? Lagian, siapa anak ini, kok main masuk-masuk ke dalam seminari tanpa ijin? Emang kemarin ada yang nginap ya di seminari? Kayaknya gax ada.
“Kamu siapa?”
“Ah, Romo pagi-pagi udah ngajak gurau. Permisi Romo, saya mau mandi dulu. Sebentar lagi laudes. Ntar terlambat.”
Kepalaku semakin bertambah penat dengan keanehan dipagi ini. Gila! Bergegas aku masuk ke kamarku. What? Apalagi ini? Kok kamarku berubah? Siapa yang merubah kamarku? Ini pakaian siapa lagi? Mana jubahku? Ah, pusing! Kucubit tanganku. It’s real! Aku takut kalau aku cuman mimpi kosong. Tak lama kemudian, anak itu muncul lagi di kamarku.
“Lho, Romo kok ada di kamar saya? Kamar Romo kan ada di depan itu?”
Aku bengong. Tak peduli lagi, kumasuki kamar yang ada di depan kamarku ini. Ah, inikan kamar magisterku! Tapi, sebentar… Ada tulisan di pintunya:
Rm. Joe Gabriel, CM
“Ya Tuhan, aku datang melakukan kehendak-MU!”
(Mzm 40:9)
Lho, itukan namaku. Perlahan kumasuki kamar ini. Rasanya tak asing lagi. Kamar ini begitu hangat menyapa aku. Kulihat di dinding kanan ada foto saat aku penjubahan bersama teman-temanku. Manis, pikirku. Tapi, foto siapa itu? Pria yang lengkap dengan stola dan kasula. Eits, mengapa ada orangtua serta abang-abangku di sana? Kugosok-gosokkan mataku. Apa aku bermimpi? Tidak. Ini nyata. Karena penasaran, aku melangkah menuju cermin. Oh My God! Siapa di cermin? Mengapa mukaku menjadi tua? Tuhan, apa aku telah menjadi gila? Aku terduduk lemas. Ada apa lagi ini Tuhan?
Tak lama kemudian…
Tok…tok…tok…
“Romo, sudah ditunggu untuk misa!”
Iya, kujawab. Aku masih bingung. Dalam kebingungan ini, kupakai jubah yang tergantung di lemari. Masa bodohlah tentang siapa aku dan apa yang terjadi padaku. Mengapa aku begitu cepat menjadi tua? Aku berjalan menuju kapel. Aku begitu gugup memimpin ekaristi bersama kebingunganku dan orang-orang muda yang tak aku kenal. Tuhan, ini sungguh-sungguh gila!

.  .  .
            Kring…Kring…
“Hallo”
“Ya, Hallo. Bisa bicara dengan Rm. Joe? Ini Pak Lukas dari Lingkungan Yakobus”
Aku masih tetap bingung tentang apa yang terjadi padaku. Pak Lukas ini siapa lagi? Sejak kapan aku kenal? Tapi, langsung saja kujawab.
“Ya, saya sendiri. Ada apa Pak?”
“Romo, janji kemarin untuk memberikan pendalaman Kitab Suci di lingkungan jam 9 nanti jadi ya? Sebentar lagi saya jemput di seminari. Saya sudah di perjalanan sekarang.”
Pendalaman Kitab Suci? Sejak kapan aku janji untuk memberikan pendalaman Kitab Suci? Pendalaman tentang apa? Jangankan pendalaman Kitab Suci, homily saja aku belum bisa.
“Pendalaman Kitab Suci?”
“Iya Romo. Kan minggu lalu sudah janji. Tentang bulan Maria itu lho.”
“Eh… Baik. Saya sedang persiapan.”
Ah, tak peduli lagi aku. Kujalani saja semua kegiatan ini tanpa basa-basi. Kegiatan gila! Badan gila! Jiwa gila! Semuanya gila! Mengapa waktu begitu cepat berubah? Bisa apa aku tentang pendalaman iman. Meditasi saja masih tidur-tiduran. Baca Kitab Suci ogah-ogahan. Lalu, sekarang tiba-tiba sudah menjadi Romo. Apa aku gila? Apa aku sedang bermimpi? Tidak sama sekali.

.  .  .
Tok…tok…tok…
“Permisi Rm. Joe. Ada tamu yang menunggu Romo di ruang tamu. Katanya sudah janji.”
Huh… Siapa lagi ini? Baru saja aku selesai dengan urusan lingkungan Yakobus. Sekarang mungkin sudah menanti kegilaan baru lagi. Sejak kapan aku janjian?
“Eh… Iya. Tunggu sebentar”
Kukenakan baju kaos merah yang aku tak tahu milik siapa. Mungkin kaos Rm. Joe yang badannya sedang mencari jiwa sehingga rohku yang masih bodoh ini nyangkut pada badannya.
Ketika sampai di ruang tamu…
“Joe, kamu masih ingat aku?”
Siapa lagi gadis ini? Tapi, dari model wajahnya, rasanya aku kenal. Wajah ini gax asing lagi. Tapi, mengapa dia juga menjadi tua? Mungkin dia…
“Kamu Jean ya?”
“Ah, syukurlah Joe, kamu masih ingat aku. Aku kira, statusmu saat ini membuat kamu lupa pada aku. Tak masalahkan kalau aku tetap panggil kamu dengan nama Joe, seperti dulu?”
Hm… Jean. Dia mantan pacarku waktu SMA. Itu setahun yang lalu. Tapi, mengapa jadi begini? Dia menjadi lebih besar, dan jujur, makin cantik.
“Ya, boleh saja. Kita kan teman? Santai aja lagi. Kabarmu gimana?”
Aku sedikit berbasa-basi.
“Baik. Kamu gimana? Kayaknya kamu makin sejahtera saja, gax kayak waktu SMA dulu. Kurus, tapi tetap keren. Ha…ha..ha..”
“Aku baik juga, puji Tuhan. Ah, biasa saja. Aku mengalami perubahan yang aku tak mengerti Tari.”
“Hiii… Bahasamu itu lho, Joe, makin tinggi. Biasa aja lagi. O ya, boleh aku ngomong sesuatu?”
“Bolehlah… Emang siapa yang ngelarang? Tak ada aturannya tuch?”
“Joe, jujur, aku tetap kangen kamu. Aku masih sayang kamu. Aku rindu kamu. Aku sadar kalau sekarang kita udah beda. Kamu pastor dan aku wanita biasa. Tapi, salahkah aku? Begitu lama kita gax ketemu, dan begitu lama juga aku selalu mencari kamu. Dua belas tahun Joe. Kamu pikir itu waktu singkat?”
Deg… Mengapa jadi begini? Apa yang aku lakukan dulu? (aku mulai terbiasa dengan “diriku” yang sekarang). Jadi, saat ini sudah dua belas tahun? Ah, Jean lagi. Ngapain pakai acara nangis-nangis segala? Dulu waktu putus aja gax segininya? Tapi, aku dag-dig-dug juga sich…
“Ya Tari. Aku mengerti perasaan kamu. Syukur pada Tuhan bahwa masih ada orang yang sayang padaku, seperti kamu. Syukur juga kalau kamu tahu bahwa aku pastor. Tapi aku sudah milik Tuhan, Jean. Seluruh hidupku untuk Tuhan. Aku juga sayang padamu dalam kasih Kristus. Aku mohon padamu agar kamu juga mengerti aku. Aku pasti selalu mendoakan kamu.”

.  .  .
Kurebahkan kepalaku di bantal. Sekarang jam 22.30 WIB. Aku menjalani hari yang sangat memusingkan. Jean pergi setelah hampir satu jam menangis di hadapanku. Tangisannya membuat aku galau. Satu jam setelah Jean pergi, aku diberitahu supaya segera berangkat ke Surabaya untuk memberikan konferensi bagi para suster. Aku terpaksa harus berangkat karena, katanya, aku sudah mengiyakan konferensi itu. Setelah konferensi itu, aku harus kembali lagi ke Malang untuk mengadakan rapat para dosen. Selama rapat aku lebih banyak diam. Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Sekarang aku terbaring di kasur ini. Kepalaku penuh dengan tanda tanya. Ada apa sebenarnya yang terjadi pada diriku? Kok aku malah jadi korban permainan jadwal. Huh… Mungkin sekarang aku sudah terbiasa dengan diriku setelah satu hari yang sangat melelahkan ini. Aku ingin tidur.

.  .  .

Dug…dug…dug… (bunyi pintu dipukul)
“Joe, apa kamu di dalam? Hallo… Apa kamu di dalam Joe?”
Kubuka mataku. Hm…WC! Aku masih terduduk di kloset ini.
“Iya, aku di dalam. Tunggu, aku sakit perut!”
Setelah sarapan, baru aku tahu bahwa aku tertidur di WC selama satu jam. Hm… Ternyata masih banyak hal yang harus aku siapkan untuk hari esok, bersama kloset.

Badut, 23 July 2011




Tidak ada komentar:

Posting Komentar