Minggu, 09 September 2012

cerpen 7(Tali)


Tali
           

Tali…
            Itulah benda yang sekarang menggelayut di tangannya. Telah hampir satu jam ia berdiri di pinggir jembatan itu. Telah hampir satu jam ia mencoba memikirkan matang-matang, apa yang akan ia lakukan. Sesekali matanya melirik ke bawah. Tersirat sedikit keraguan di wajahnya.
            Ah…. Tali ini masih saja menjadi masalah bagiku untuk berbuat!
            Tak lama kemudian, ia mencoba mengambil jarak untuk duduk. Kelihatannya, tadi kakinya terlalu ke pinggir. Setelah mendapat tempat yang sedikit nyaman, dikeluarkannya sebungkus rokok kretek yang ia beli kemarin di warung Inem, gadis cantik yang baru-baru ini menjadi buah bibir di kampungnya. Dihisapnya dengan nikmat. Paling tidak, inilah rokok terakhir untuknya. Hisapan demi hisapan semakin membuat pikirannya lebih santai. Selang beberapa menit kemudian, ditutupnya matanya secara perlahan.
            Apa itu kebebasan?
            Pertanyaan itu selalu menghantui pikirannya selama seminggu ini. Ia sudah muak dengan kehidupan yang selama ini ia jalani. Munafik! Bangsat! Huh… Ia sudah bosan menjalaninya. Ia teringat akan ibunya, seorang wanita yang selalu tampil sempurna dalam setiap kegiatan yang ia ikuti. Ia masih tetap berpikir, apa wanita itu masih pantas disebut sebagai ibunya? Ia selalu merasa dikekang oleh ibunya. Pakaian yang harus ia pakai, haruslah sesuai dengan mau ibunya. Bahkan, untuk sekadar bergurau dengan teman-temannya pun ia harus diatur. Apa karena dulu abangnya meninggal karena kecelakaan sehingga dia yang harus menerima akibatnya? Belum lagi soal jodoh. Ibunya telah menjodohkan dia dengan Dina, seorang anak pengusaha yang kelakuannya mirip anjing busuk. Di depan keluarganya, Dina bertingkah seperti anak alim sedunia. Segala macam etika begitu ia perhatikan. Mungkin Dina inilah yang paling hebat kalau disuruh cari muka. Semua orang di rumahnya sangat mengagumi Dina. Tingkah polah Dina ini membuat ia tak pernah memiliki kesempatan untuk menolak Dina menjadi jodohnya.
Jodoh seperti apa dia?
Apa seorang gadis seperti itu, yang sukses berkelamin di depanku, layak menjadi istriku? Edan tenan!
Seakan tak mau kalah dengan Dina, ibunya pun tega bermain cinta dengan seorang pria bule di belakang ayahnya. Dunianya begitu kacau! Hampir tak ada manusia yang benar di rumahnya, selain ayahnya yang sekarang terbaring saja di tempat tidur karena stroke. Ia teringat, ayahnya dulu adalah seorang pria hebat. Baginya sendiri, ayahnya adalah manusia terhebat dalam hidupnya. Keluarganyapun merupakan keluarga yang sangat harmonis. Ia dan abangnya selalu dimanja oleh kedua orangtuanya. Ayah dan ibunya selalu mempunyai waktu bagi mereka, bahkan dalam waktu sibuk mereka sekalipun. Semua berubah saat abangnya meninggal karena kecelakaan. Kecelakaan tragis!
Sore itu, ayah dan abangnya sedang dalam perjalanan pulang dari rumah nenek mereka. Ia dan ibunya masih tinggal di rumah nenek karena ibunya masih harus melayati kubur kakek. Sekitar 10 Km dari rumah nenek, ayahnya singgah sebentar untuk membeli rokok. Abangnya tetap tinggal di dalam mobil. Saat masih di warunglah ayahnya menyaksikan mobil yang mereka gunakan hancur ditabrak sebuah mobil truck. Abangnya mati seketika dalam mobil itu. Semenjak kejadian itu, ayah dan ibunya saling mempersalahkan. Ibunya menganggap bahwa ayahnyalah pembunh abangnya. Dan sejak saat itu juga, ayahnya terkena stroke. Ibunya mulai mengambil alih kontrol atas keluarganya. Ibunya sangat membenci ayahnya.
Fuih….!
Apa karena sekarang ayah sudah tidak bisa apa-apa lagi, karena sakit, lantas ibu bisa semaunya begitu?
Apa karena sekarang ibu yang mengongkosi hidup kami, lantas ia bisa semau hati?
            Dimana kebebasanku untuk bergerak?
            Ah, Adel juga! Bodoh sekali aku sehingga jatuh cinta padanya.
Masih terngiang di benaknya saat ia dengan berani menyatakan cintanya kepada Adel, sang primadona sekolahnya. Itu setahun yang lalu. Hanya dengan bermodalkan nekat, ia berani menghampiri Adel. Baginya, Adel adalah sosok malaikat yang dikirim Tuhan hanya baginya. Ini bukan sembarang cinta! Ini cinta mati! Telah ia korbankan segala waktunya hanya untuk Adel. Tapi, gadis itu, seakan tak punya malu selalu merengek-rengek untuk membatasi hidupnya. Ia sudah menjadi seperti sapi perah yang selalu menuruti kemauan Adel. Ketika ia ingin protes, Adel minta putus. Baru ia tahu bahwa Adel sebenarnya hanya menginginkan uangnya, juga kepintarannya sebagai juara umum sekolah. Cinta Adel hanyalah sebuah cinta yang materialistik. Terakhir, yang paling menyakiti hatinya, Adel minta ijin supaya dia bisa dekat dengan Damin, Si Brengsek yang selalu menghinanya.
Dimana harga diriku?
Dimana kebebasanku?
Dihapusnya semua ingatan itu.
Hanya sakit yang ia rasakan. Kembali semua kemunafikan itu menyayat hatinya. Hati dan pikirannya selalu dihimpit pertanyaan:
Dimana kebebasanku sebagai manusia? Anjing pun masih bisa bebas ke sana kemari! Apa aku tak lebih hina dari anjing?
Ia mengarahkan pandangannya ke langit. Pikirannya mencoba bertanya kepada Dia, yang telah menghadirkannya ke dunia. Mungkin Dia bisa memberikan jawaban atas semua pertanyaan dan kegelisahannya selama ini.
Tuhan,
Di mana letak kebebasan yang Kau berikan?
Mengapa begitu banyak kata “Jangan”…”Harus”…dan “Tidak boleh” dalam hidupku?
Mengapa begitu banyak manusia bangsat?
Mengapa seperti ini Tuhan? Mengapa?
Ia hening sejenak. Mencoba mempertajam pendengarannya.
Woi… Mengapa Kau tetap diam Tuhan?
Apa arti diam-Mu?
Ditatapnya lagi tali yang masih setia menggelayuti tangannya. Tali itu tadi dia ambil dari gudang yang berada di belakang rumahnya. Gudang di mana dulu ia selalu bermain petak umpet dengan abangnya. Ah, hanya tinggal mati saja dia masih bingung. Ia tak bisa bebas untuk memilih mati dengan tali atau tidak. Namun ia segera tersadar. Ikatanlah yang membuat ia menjadi seperti saat ini. Talilah yang membuat ia tersiksa. Tali ikatan ibunya, tali ikatan Tania, tali ikatan egoismenya, tali ikatan kebosanannya, tali ikatan kekecewaanya, dan tali ikatan ketakutannya. Seakan tali itu sudah seperti kotoran najis, dilemparnya tali itu ke sungai di bawahnya yang penuh dengan batu-batu besar.
Hm… Bukan tali!!!
Segera ia berdiri. Pas juga dengan habisnya hisapan rokoknya tadi. Ditariknya nafas panjang. Ia berdiri lega dan… meloncat. Ia meloncat dengan penuh kebebasan. Ia meloncat tanpa beban. Ia meloncat dengan melepaskan semua beban hidupnya. Ia tak lagi memikirkan tentang neraka atau surga. Tentang ibu atau ayahnya. Tentang Adel atau Damin. Ya… ia tak lagi memikirkan tentang hidup. Lebih baik seperti ini daripada dengan tali.

Badut, 13 July 2011
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar